7.25.2012

when the word 'doubt' saying. Questioning why ?

Sudah benar dua hati…
Berjalan beriringan
Kemudian..Tidak diyana
Kini Retak…
Bukan dengan siapa atau salah siapa
Hanya saja mereka kini berada di persimpangan
Lagi…
Mempertanyakan…
Berhenti ataukah dilanjutkan?
Smooth Cappuccino
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah hampir dingin secangkir cappuccino panas berada di sisi smooth cappuccino. Lukisan diatas busa cappuccino-pun sudah hampir memudar. Gemercis bunyi busa mulai samar-samar melebur bersama kopi khas italia itu. Cangkirnya-pun sudah dingin ternetralisasi udara diluar café yang malam itu cukup membuat kaki bergidik.
Sudah satu jam pula Smooth Cappuccino mengenyahkan kopi kesukaannya. Dia mengacuhkan kopinya begitu saja. Bahkan sejak sang barista yang notabene terganteng dan termanis di-café rela menghantarkan kopi di meja smooth cappuccino dan black coffee. Membiarkan sang barista meletakkan cangkir putih berisi cappuccino panas berlukis panda. Ucapan terima kasihpun tak terlontar ketika sang barista beranjak pergi. Mungkin, jika tidak pelanggan setia café si barista ogah memberi servis segitunya, karena dia barista bukan waitress café.
Seakan ada hal yang lebih besar daripada menikmati secangkir cappuccino panas dan mengalihkan pandangan smooth cappuccino pada sang barista. Ini bukan kebiasaan smooth cappuccino yang menikmati kopinya selarut ini, yang tidak membawa mesin ketik millennium-nya, yang mengenyahkan kopi setelah tepat terhidang dihadapannya, yang pergi ke café tanpa menggandeng black coffee.
Rupanya hati Smooth Cappuccino sedang tak enak malam ini. Hati Smooth Cappuccino sedang redup redam karena Black Coffee. Entah kenapa kemudian black coffee mulai meragu dan menjadi dingin pada Smooth Cappuccino. Bukankah seminggu terakhir ini mereka saling berbalas kata-kata manis, tertawa lepas, dan bernyanyi bersama. Walaupun ego dan amarah mereka masih saling bertentangan.
Smooth Cappuccino tampak mengawang menatap langit malam. Memperhatikan gugus orion di langit. Berkelap-kelip mengajak berfantasi. Lalu, ingatannya mengabur dibawanya ke masa di mana teh chamomile hadir dalam hidupnya. Kangen?
Hoahhh!! Teh chamomile yang sanggup menggoda Smooth Cappuccino. Teh chamomile yang sanggup menarik perhatian Smooth Cappuccino. Dan teh chamomile pula yang sanggup memberi jarak diantara mereka berdua, Smooth Cappuccino dan Black coffee. Teh chamomile yang sanggup membuat Black coffee merasa cemburu, marah, lalu perlahan mundur. Dan kemudian membawa smooth cappuccino hampir melepaskan pangerannya begitu saja. Tapi semua itu sudah keputusan smooth cappuccino yang kembali berbalik arah dan merengkuh tangan imagery black coffee kembali.
Sebegitu special kah sang chamomile? Nyatanya Iya. Teh chamomile itu barang mahal. Karena untuk menyeduhnya tidaklah mudah, karena barang import ia harus dijemput di bandara kemudian dibelikan cangkir yang cocok dari sebuah mall. Menyedu ia pun tidak sembarangan, bisa diseduh kalau teman makannya dibeli dari resto, food court atau tempat makanan siap saji internasional yang ada di mall atau tempat exclusive lainnya.
Nongkrong bersama teh chamomile-pun tidak cuman sebatas pergi ke kucingan depan kampus. Paling tidak kita harus membawanya nonton, ke tempat karoke terkemuka, ke tempat dugem orang borjunis, atau sekadar ngopi dan makan donat di café internasional. Teh chamomile hampir dua kali seminggu wajib futsal  di arena futsal terkemuka juga. Dan untungnya semua dibiayai oleh teh chamomile.
Mungkin jika dulu teh chamomile diperkenalkan pada ibu smooth cappuccino. Ibu akan meminta untuk tidak melepasnya. Tapi diuurungkan niat smooth cappuccino. Karena dia tahu, masih ada Black coffee yang tetap berdiri menanti disitu. Apalagi mengingat perdebatan Smooth Cappuccino dan Ibu, yang cukup menguras emosi smooth Cappuccino.
Sekirannya begini: ‘Aku nanti mau tinggal di plosok desa saja. Melihat gunung didepan beranda rumah, mendengar embun pagi dan memiliki sekolah alam. Bayarnya cukup dengan seikat sayuran atau sekantung beras’ kata smooth cappuccino. Dengan dingin ibu berkata ‘Sungguh? Bukannya kamu tidak bisa jauh dari Mall, internet, bioskop, suasana kota, pantai, café, teman? lalu mau bayar pakai apa kopi yang tiap pagi kau seduh?’ smooth cappuccino diam tak bisa membalas.
Itukah alasan yang membuat dia kembali mengajak Black Coffee di setiap harinya? Mungkin Iya atau Mungkin saja Tidak. Iya, karena teh chamomile hanya memberi senang namun tak memberi nyaman. Tidak karena standarisasi teh chamomile terlalu tinggi buat smooth cappuccino yang selalu sederhana dengan nasi warteg atau sambel korek tempe penyet yang terhidang. 
Namun ketika hati smooth cappuccino sudah tertambat pada black coffee, lalu kenapa tiba-tiba black coffee meragu? mempertanyakan semuanya. Apa black coffee takut pada Ibu? Apa justru smooth cappuccino yang takut pada ibu?
Atau keduanya bukan takut pada ibu melainkan………
Kemudian sang barista datang menyadarkan lamunan Smooth Cappuccino
“Maaf cappuccino, boleh saya angkat cangkir kamu? Sebentar lagi Café tutup!” Sang barista dengan sopan menyunggingkan senyumnya.
“Iya, Silakan! Saya sudah selesai, kok.” Smooth Cappuccino berdiri beranjak pergi
Kopi dingin tak terjamah dan jam menunjukkan tepat pukul 2 pagi.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Meragu…
Siapa yang tak memperbolehkan?
Meragu….
Itu sifat alamiah manusia…
Tapi…
Meragu…
Jangan dijadikan tiang gantungan
Menggantung  orang tanpa kejelasan….
 Smooth Cappuccino
Semarang, 24 July 2012, 9:46:30 PM
Ost. If Time Is All I Have –James Blunt-
PS: #kode semoga menjadi berkah buat kita ya,
Klo aku sih ingin melanjutkannya, km?
Kita selalu terjebak di frendzone sih! Jadinya ya geje :D
Coba kita berduaan besok! pasti ;3 #oraoleh mergo iki wulan #Poso hahaha :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar