12.10.2013

FEARLESS!!!

Dulu saya bingung dengan pekerjaan ibu. Kenapa ia harus melakukan survei? Mencermati peta satelit dan kemudian memetak-metakan blok peta desa dari jalan besar sampai aliran sungai kecil yang membelah desa  seakurat dan sedetails mungkin , melakukan kunjungan pelosok-pelosok desa dengan membawa lembar kuesioner , berinteraksi dengan kepala desa, dusun, dan warga dari desa paling pojok gunung sampai ke pesisir pantai.
Satu kali saya mengajukan protes padanya, persisnya pada kedua orang tua saya sih! Karena kesediaan waktu yang ada. Dan saya membeci banyak kertas, neraca-neraca, kotak-kotak kuesioner, peta dirumah! Tapi itu dulu, ketika saya belum mengerti mereka. Ya! mengerti! ketika pulang dari desa atau tempat-tempat yang baru selalu ada cerita lalu semakin dewasa saya semakin dibawa ibu untuk pergi melihatnya bekerja.
Saya dibawanya ke desa pesisir pantai, melihatnya berkenalan dan berinteraksi dengan kepala desa atau lurah, menyambangi plosok desa yang jauh dengan kebisingan dan alamnya yang aduhai, melihat para buruh pengrajin batik bekerja membatik dengan tangan dan matanya yang lamat -ini dikarenakan kebanyakan buruh ‘mbatik’ di Lasem sudah berusia renta, menyambangi tempat pekerja seks komersial untuk disurvei satu-satu, mensurvei masyarakat tentang baca-dan tulis mereka, mensurvei hasil pertanian/perternakan suatu daerah blok pemetaan, dan masih banyak lagi.
SEMUA ITU KEREENNN, BUKAN??? HELL YEAH!!!!
Tapi pertanyaannya, apakah ada resiko?
YAEEEYALAH!!! Semua pekerjaan mempunyai resiko sendiri-sendiri, Kalee!!
Salah satunya penolakan masyarakat itu pasti, karena terkadang masyarakat yang belum tahu pekerjaan ibu saya merasa asing karena pertanyaan-pertanyaan yang ada di kuesioner. IYA, SIH! Kadang saya merasa pemerintah KEPO sekali dengan suatu masyarakat sampai luas bangunan atau ubin pun harus disertakan. Dan inilah tantangannya! Ibu saya harus pintar-pintar berkomunikasi… karena ia sedang berhubungan dengan suatu masyarakat. Medan kerja yang ditempuh terkadang juga menjadikan salah satu resiko juga.
DAN ITU SEMUA BUTUH YANG NAMANYA ‘FEARLESS’! Ya! Fearless disini bukan berarti tidak takut sama sekali lho ya! Tapi lebih ke willingness to accept your job…. Eh bahasa English sayah keluar!!! Hahaha :P
DAN DISINILAH SAYA BERADA SEKARANG…
Karena anehnya ‘FEAR’ itu lambat laun melebur. Bukan menjadi tidak ada apa-apa. Tapi Oke, I’m good now! Ya! Karena nyatanya ketika saya accept untuk mentoring Rumah Belajar Tegalrejo yang notabene daerah portitusi tidak seperti saya bayangkan sebelumnya. Mendapati masyarakat sekitar kooperatif dan komunikatif membuat saya tidak lagi canggung untuk menyapa mereka. Ya! Walau terkadang di jam-jam istirahat saya harus melihat perempuan berusia muda bahkan hampir 40 tahun masih asyik dengan poker, dan rokoknya. Serta Mangrove Planting di daerah Mangkang yang sisi kereligiousannya bisa dilihat ketika adzan tiba. Penduduk akan berbondong-bodong menuju masjid terdekat. Saya akan cerita tapi lain waktu karena that’s ‘SPECIAL’ for me
Begitu juga ketika saya harus mengajar anak-anak SMP yang tumbuh di kota dengan kritis dan kemampuan ngeles, serta arus kota dan masa transisi mereka.  Lalu, sesekali di jam pulang sekolah saya mengambil kerjaan extra. Sampai teman saya menanyakan, lalu kamu gak pernah hangout?
HEI!!!! Saya ngobrol… bertemu kalian…mengunjungi sekolah…melihat alam yang begitu cantik-nya…. Menikmati perjalanan…Karaoke, nonton film…. Apa itu bukan hangout? Hahahaha :D
Itulah sayah! Yang kadang punya FEARLESS hampir 88 %
Gak peduli ban bocor di tengah malam di sepanjang tempat portitusi, gak peduli habis jatuh dari sepeda motor, gak peduli di omongin orang…karena memang saya hanya peduli gimana caranya nemuin tukang tambal ban, peduli bagaimana saya harus tetap nyampai apotik beli perban dan antek-anteknya karena besok saya punya pekerjaan, dan peduli bagaimana memperbaiki diri supaya kenyinyiran orang berkurang…..
DAN BUAT SAYA INIEH BELUM SEBERAPA! KARENA ALAM INDONESIA, MASYARAKATNYA, DAN HIDUP ITU SUSAH UNTUK DIJELASKAN…..
Karena seperti tag line chitatoes, ‘Life is never flat!’ Tapi kalau ada batu gede di tengah jalan lan jeglongan ya ojo diterjang hahahaha :D #SELFNOTE

Dan pada akhirnya,
See you next chapter!
Semarang, December 10, 2013
PS: Keluar dari zona nyaman, Kenapa tidak? :)
And Jebraw said
Kunci tidak menyerah: bukan "Aduhh masih jauh bangett.." Tapi "Yes!!! gw udah sejauh ini!"
 OST. Words and Stories (Aditya Sofyan)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar