Dulu saya bingung dengan
pekerjaan ibu. Kenapa ia harus melakukan survei? Mencermati peta satelit dan
kemudian memetak-metakan blok peta desa dari jalan besar sampai aliran sungai
kecil yang membelah desa seakurat dan
sedetails mungkin , melakukan kunjungan pelosok-pelosok desa dengan membawa
lembar kuesioner , berinteraksi dengan kepala desa, dusun, dan warga dari desa
paling pojok gunung sampai ke pesisir pantai.
Satu kali saya
mengajukan protes padanya, persisnya pada kedua orang tua saya sih! Karena kesediaan
waktu yang ada. Dan saya membeci banyak kertas, neraca-neraca, kotak-kotak
kuesioner, peta dirumah! Tapi itu dulu, ketika saya belum mengerti mereka. Ya!
mengerti! ketika pulang dari desa atau tempat-tempat yang baru selalu ada
cerita lalu semakin dewasa saya semakin dibawa ibu untuk pergi melihatnya
bekerja.
Saya dibawanya ke desa
pesisir pantai, melihatnya berkenalan dan berinteraksi dengan kepala desa atau
lurah, menyambangi plosok desa yang jauh dengan kebisingan dan alamnya yang
aduhai, melihat para buruh pengrajin batik bekerja membatik dengan tangan dan
matanya yang lamat -ini dikarenakan kebanyakan buruh ‘mbatik’ di Lasem sudah
berusia renta, menyambangi tempat pekerja seks komersial untuk disurvei
satu-satu, mensurvei masyarakat tentang baca-dan tulis mereka, mensurvei hasil
pertanian/perternakan suatu daerah blok pemetaan, dan masih banyak lagi.
SEMUA ITU KEREENNN, BUKAN??? HELL YEAH!!!!
Tapi pertanyaannya,
apakah ada resiko?
YAEEEYALAH!!! Semua pekerjaan mempunyai resiko
sendiri-sendiri, Kalee!!
Salah satunya penolakan
masyarakat itu pasti, karena terkadang masyarakat yang belum tahu pekerjaan ibu
saya merasa asing karena pertanyaan-pertanyaan yang ada di kuesioner. IYA, SIH!
Kadang saya merasa pemerintah KEPO sekali dengan suatu masyarakat sampai
luas bangunan atau ubin pun harus disertakan. Dan inilah tantangannya! Ibu saya
harus pintar-pintar berkomunikasi… karena ia sedang berhubungan dengan suatu
masyarakat. Medan kerja yang ditempuh terkadang juga menjadikan salah satu
resiko juga.
DAN ITU SEMUA BUTUH YANG NAMANYA ‘FEARLESS’! Ya! Fearless
disini bukan berarti tidak takut sama sekali lho ya! Tapi lebih ke willingness to
accept your job…. Eh bahasa English sayah keluar!!! Hahaha :P
DAN DISINILAH SAYA BERADA SEKARANG…
Karena anehnya ‘FEAR’
itu lambat laun melebur. Bukan menjadi tidak ada apa-apa. Tapi Oke, I’m good
now! Ya! Karena nyatanya ketika saya accept untuk mentoring Rumah Belajar
Tegalrejo yang notabene daerah portitusi tidak seperti saya bayangkan
sebelumnya. Mendapati masyarakat sekitar kooperatif dan komunikatif membuat
saya tidak lagi canggung untuk menyapa mereka. Ya! Walau terkadang di jam-jam istirahat
saya harus melihat perempuan berusia muda bahkan hampir 40 tahun masih asyik
dengan poker, dan rokoknya. Serta Mangrove Planting di daerah Mangkang yang
sisi kereligiousannya bisa dilihat ketika adzan tiba. Penduduk akan
berbondong-bodong menuju masjid terdekat. Saya akan cerita tapi lain waktu
karena that’s ‘SPECIAL’ for me
Begitu juga ketika saya
harus mengajar anak-anak SMP yang tumbuh di kota dengan kritis dan kemampuan
ngeles, serta arus kota dan masa transisi mereka. Lalu, sesekali di jam pulang sekolah saya
mengambil kerjaan extra. Sampai teman saya menanyakan, lalu kamu gak pernah
hangout?
HEI!!!! Saya ngobrol…
bertemu kalian…mengunjungi sekolah…melihat alam yang begitu cantik-nya…. Menikmati
perjalanan…Karaoke, nonton film…. Apa itu bukan hangout? Hahahaha :D
Itulah sayah! Yang kadang
punya FEARLESS hampir 88 %
Gak peduli ban bocor di
tengah malam di sepanjang tempat portitusi, gak peduli habis jatuh dari sepeda
motor, gak peduli di omongin orang…karena memang saya hanya peduli gimana
caranya nemuin tukang tambal ban, peduli bagaimana saya harus tetap nyampai
apotik beli perban dan antek-anteknya karena besok saya punya pekerjaan, dan
peduli bagaimana memperbaiki diri supaya kenyinyiran orang berkurang…..
DAN BUAT SAYA INIEH
BELUM SEBERAPA! KARENA ALAM INDONESIA, MASYARAKATNYA, DAN HIDUP ITU SUSAH UNTUK
DIJELASKAN…..
Karena seperti tag line
chitatoes, ‘Life is never flat!’ Tapi kalau ada batu gede di tengah jalan lan
jeglongan ya ojo diterjang hahahaha :D #SELFNOTE
Dan pada akhirnya,
See you next chapter!
Semarang, December
10, 2013
PS: Keluar dari
zona nyaman, Kenapa tidak? :)
And Jebraw said
Kunci tidak menyerah: bukan "Aduhh masih jauh
bangett.." Tapi "Yes!!! gw udah sejauh ini!"
OST. Words and Stories (Aditya Sofyan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar