Diantara kerlap-kerlip malam
mereka bersinar…
Diantara riuh Jalan Malioboro…
mereka berbinar
Bergelayut mesra….
Berdebat harga…
@Pasar Kembang
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Malam
di Jogja kali ini membawaku melintas daerah Sarkem. Ya!Pasar Kembang. Begitulah orang sini
menyebutnya… Singkat menyingkat jalan rupanya sudah menjadi budaya tersendiri
disini… Contohnya, saya yang tinggal di daerah jalan kaliurang, disingkat
dengan Jakal. Lain lagi teman saya yang tinggal di daerah Jalan Magelang, mereka
menyingkatnya menjadi JaMal. Bagi teman
yang tinggal di daerah monumen jogja kembali, mereka menyebutnya monjali.
Berwisata
menyusuri sekitaran Jalan Malioboro memang tak ada habisnya jika dibahas, tapi
malam menyuguhkan hal yang berbeda di Jalan Pasar Kembang. Perekonomian
lokalisasi di daerah Istimewa. Bagaimana tidak istimewa… karena jarang sekali
lokalisasi tumbuh di tengah hingar bingar kota wisata dan arus transportasi.
Melihat
para pekerja cantik dengan kostum mereka…mengingatkan saya di beberapa bulan
yang lalu. 2 November 2013, Itulah dimana pertama kalinya saya mengijakkan kaki
di lokalisasi. Ya! Tegalrejo… atau GalPanas… Lokalisasi ini berada di pinggiran
kota Semarang. Tepatnya di kecamatan Bergas berhadapan dengan rumah sakit ken
saras.
Tak
ada yang menyangka saya seberani itu mengambil keputusan. Bahkan kedua orangtua
saya dan kakak saya. Tapi toh! Semua itu didasari atas cerita Ibu dan Bapak
saya tentang lokalisasi dan pekerja seks di Lasem maupun Rembang. Dimana keduanya
pernah bekerja untuk pemerintah demi mereka. Cerita mereka lah yang merangsang
otak saya bahwa lingkungan yang orang pikir buruk tidak selamanya buruk.
Awalnya,
memang ada rasa cemas, canggung dan campur aduk jadi satu namun berjalannya
waktu, semakin terbiasa saya berjalan sendiri menuju rumah belajar menyapa
mbak-mbak pekerja yang sedang asyik main poker, merokok, maupun menunggu tamu tapi
hanya sebatas sampai jam 7 malam. Selebihnya, bisa dikatakan lebih baik jangan.
Bertemu
dengan adik-adik yang tumbuh di lokalisasi memang mahadasyat-nya. Mahadasyat
karena saya tersentak kaget. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa mereka mempunyai
mind-mapping yang special dari kebanyakan anak-anak pada umumnya. Emosi mereka
juga tak bisa diterka. Bahkan setiap mereka datang, banyak cerita yang membuat
saya bersyukur. Bersyukur akan hidup yang telah diberi Tuhan.
Anak-anak
yang berkembang kemudian menjadi dewasa. Proses pendewasaan juga sepertinya
masih chaos disini. Diantara botol beer kosong dan anjing-anjing liar yang siap
terpenggal mereka hidup dan bermasyarakat. Satu hal lagi yang mebuat bulu kudu
saya merinding, diantara serunya karoke berselubung tempat lokalisasi…kutemukan
damai di sisi lain. Tiap menjelang magrib dan isya, aku mendengar
lantunan-lantunan suara quran menggema walaupun teman saya kadang sebal karena
suara terlalu keras dan lama. Mereka menanyaiku yang nyatanya aku tak seorang
religius, namun alunan-alunan itu membawaku
tenang dan sesekali bergumam mengikuti lantunan.
Ah!!!
Aku rindu dibuatnya!!!
Seakan
Jalan Sarkem ini menjadi mengabur…
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diamond….
Benarkah
kau
hanya milik seorang borjunis?
Jalang….
Aku
tak milik siapapun
bahkan
engkau
Aku
hanya sang kunang-kunang merah
@KamarKost135A
Yogyakarta, March 3, 2014, 11:39 PM
OST. Words and Stories, Aditya Sofyan
PS: Dua Koyo cukup mengisyaratkan
bahwa kaki saya
lelah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar