3.03.2014

Mendamba Tegalrejo disisi Sarkem

Diantara kerlap-kerlip malam
mereka bersinar…
Diantara riuh Jalan Malioboro…
mereka  berbinar
Bergelayut mesra….
Berdebat harga…
              @Pasar Kembang
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Malam di Jogja kali ini membawaku melintas daerah Sarkem.  Ya!Pasar Kembang. Begitulah orang sini menyebutnya… Singkat menyingkat jalan rupanya sudah menjadi budaya tersendiri disini… Contohnya, saya yang tinggal di daerah jalan kaliurang, disingkat dengan Jakal. Lain lagi teman saya yang tinggal di daerah Jalan Magelang, mereka menyingkatnya menjadi JaMal.  Bagi teman yang tinggal di daerah monumen jogja kembali, mereka menyebutnya monjali.
Berwisata menyusuri sekitaran Jalan Malioboro memang tak ada habisnya jika dibahas, tapi malam menyuguhkan hal yang berbeda di Jalan Pasar Kembang. Perekonomian lokalisasi di daerah Istimewa. Bagaimana tidak istimewa… karena jarang sekali lokalisasi tumbuh di tengah hingar bingar kota wisata dan arus transportasi.

Melihat para pekerja cantik dengan kostum mereka…mengingatkan saya di beberapa bulan yang lalu. 2 November 2013, Itulah dimana pertama kalinya saya mengijakkan kaki di lokalisasi. Ya! Tegalrejo… atau GalPanas… Lokalisasi ini berada di pinggiran kota Semarang. Tepatnya di kecamatan Bergas berhadapan dengan rumah sakit ken saras.
Tak ada yang menyangka saya seberani itu mengambil keputusan. Bahkan kedua orangtua saya dan kakak saya. Tapi toh! Semua itu didasari atas cerita Ibu dan Bapak saya tentang lokalisasi dan pekerja seks di Lasem maupun Rembang. Dimana keduanya pernah bekerja untuk pemerintah demi mereka. Cerita mereka lah yang merangsang otak saya bahwa lingkungan yang orang pikir buruk tidak selamanya buruk.
Awalnya, memang ada rasa cemas, canggung dan campur aduk jadi satu namun berjalannya waktu, semakin terbiasa saya berjalan sendiri menuju rumah belajar menyapa mbak-mbak pekerja yang sedang asyik main poker, merokok, maupun menunggu tamu tapi hanya sebatas sampai jam 7 malam. Selebihnya, bisa dikatakan lebih baik jangan.
Bertemu dengan adik-adik yang tumbuh di lokalisasi memang mahadasyat-nya. Mahadasyat karena saya tersentak kaget. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa mereka mempunyai mind-mapping yang special dari kebanyakan anak-anak pada umumnya. Emosi mereka juga tak bisa diterka. Bahkan setiap mereka datang, banyak cerita yang membuat saya bersyukur. Bersyukur akan hidup yang telah diberi Tuhan.
Anak-anak yang berkembang kemudian menjadi dewasa. Proses pendewasaan juga sepertinya masih chaos disini. Diantara botol beer kosong dan anjing-anjing liar yang siap terpenggal mereka hidup dan bermasyarakat. Satu hal lagi yang mebuat bulu kudu saya merinding, diantara serunya karoke berselubung tempat lokalisasi…kutemukan damai di sisi lain. Tiap menjelang magrib dan isya, aku mendengar lantunan-lantunan suara quran menggema walaupun teman saya kadang sebal karena suara terlalu keras dan lama. Mereka menanyaiku yang nyatanya aku tak seorang religius, namun  alunan-alunan itu membawaku tenang dan sesekali bergumam mengikuti lantunan.
Ah!!! Aku rindu dibuatnya!!!
Seakan Jalan Sarkem ini menjadi mengabur…
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diamond….
Benarkah
kau hanya milik seorang borjunis?
                Jalang….
Aku tak milik siapapun
bahkan engkau
Aku hanya sang  kunang-kunang merah
                                 @KamarKost135A
Yogyakarta, March 3, 2014, 11:39 PM
OST. Words and Stories, Aditya Sofyan
PS: Dua Koyo cukup mengisyaratkan
 bahwa kaki saya lelah






Tidak ada komentar:

Posting Komentar