4.25.2014

Dunia Saya Tidak Sebatas Bilik!

Ada asa menggantung lekat
Mengawang disisi cahaya
Pelan menatap rona
Bernama tekat…..
@StarbuckParagon
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seorang teman bertanya pada saya, Agama saya apa?
Hmmmmm……………………………………………………………………….
Mengapa kamu mengamalkan dharma layaknya seorang Budhisme?
Mengapa kamu mengkasihi orang seperti seorang kristiani ?
Dan mengapa kamu bersujud seperti muslim pada umumnya?
Seklebat saya hanya membalasnya, “Kalau di KTP sih Islam!”


Banyak orang di dunia ketika disinggung tentang hal ini menjadi sangat sensitive. Karena memang benar adanya, hal ini adalah benang merah dari dunia. Kalau saya bilang hal ini itu seperti sebuah potongan kue pie. Dimana, orang boleh membagi menjadi berapa bagian sekalipun, tetapi ketika kue pie itu digabungkan satu sama lain mereka tetaplah satu kesatuan kue pie dimana rasa dan isinya bersumber pada yang sama yaitu sang pembuat adonan, hanya saja terkadang orang menilai kue pie yang di dapat orang lain terlalu hangus atau terlalu besar dari punyanya padahal orang yang dianggap mendapatkan kue pie hangus tersebut justru lebih suka dengan kulit pie yang menghitam kecoklatan. Dan semua itu adalah hanya persoalan perspektif.
Saya memang bukan seorang religious tapi jika saya hanya berfikiran pada kue pie orang lain terlalu hangus dan tidak enak dimakan, maka saya seperti hidup di sebuah bilik. Kalian tahu kan “bilik” ? Diksi bahasa dimana disini saya hidup hanya dikotak kecil nan sempit.
Disini, saya tidak mengajukan protes pada teman saya bahkan pemerintah. Karena ini justru hal yang wajar bagi warga Indonesia, dimana pada sila pertama Pancasila yang berbunyi, “Ketuhanan Yang Maha Esa” artinya warga Indonesia mengakui bahwa Tuhan itu satu. Maka dari situlah, kenapa di ktp, dokumen, formulir pendaftaran, dan semua hal yang berhubungan dengan identitas di Indonesia selalu disertakan Agama.
Disini, saya hanya tidak mau menjadikan dunia saya seperti hidup dibilik kecil. Padahal saya hidup di dunia luas, dimana di Indonesia ini mempunyai berbagai macam suku dan  hebatnya di Indonesia mempunyai slogan “Bhineka Tunggal Ika” kalau kata iklan teh sih “Apapun Makanannya….minumnya the botol***”. So, apa kita diam begitu saja jika saudara kita terluka? Apa kita diam begitu saja jika orang yang kita kasihi ternyata sedang membutuhkan kopi, padahal kita malah membeli dua cangkir kopi penuh?
Mungkin saja ini dikarenakan saya yang sedari kecil memang dididik ibu, bapak, kakak dan lingkungan saya dengan menebar dharma itu sama saja menebar benih bunga yang selalu disiram tiap pagi….memang bukan mobil merci yang tumbuh tapi bunga yang bersemi indah menyejukkan rumah…
 Dan semua itu adalah pelajaran PPKN……….
Karena hidup di sebuah bilik itu ternyata sempit……
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Senja menepi
Pada  sang peneduh hati
Ada resah menanti
Dibalik bilik hati……
                   Pukul lima
             @StarbuckParagon
Semarang, 4/25/2014, 9:52 PM
Music: Sepi – Are You Alone? (AYA)-
PS: Whatever who you are!
You Definitely Human
And we’re equal in this entire world



Tidak ada komentar:

Posting Komentar