Ada
asa menggantung lekat
Mengawang
disisi cahaya
Pelan
menatap rona
Bernama
tekat…..
@StarbuckParagon
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seorang
teman bertanya pada saya, Agama saya apa?
Hmmmmm……………………………………………………………………….
Mengapa
kamu mengamalkan dharma layaknya seorang Budhisme?
Mengapa
kamu mengkasihi orang seperti seorang kristiani ?
Dan mengapa
kamu bersujud seperti muslim pada umumnya?
Seklebat
saya hanya membalasnya, “Kalau di KTP sih Islam!”
Banyak
orang di dunia ketika disinggung tentang hal ini menjadi sangat sensitive.
Karena memang benar adanya, hal ini adalah benang merah dari dunia. Kalau saya
bilang hal ini itu seperti sebuah potongan kue pie. Dimana, orang boleh membagi
menjadi berapa bagian sekalipun, tetapi ketika kue pie itu digabungkan satu
sama lain mereka tetaplah satu kesatuan kue pie dimana rasa dan isinya
bersumber pada yang sama yaitu sang pembuat adonan, hanya saja terkadang orang menilai kue pie yang di
dapat orang lain terlalu hangus atau terlalu besar dari punyanya padahal orang
yang dianggap mendapatkan kue pie hangus tersebut justru lebih suka dengan
kulit pie yang menghitam kecoklatan. Dan semua itu adalah hanya persoalan
perspektif.
Saya
memang bukan seorang religious tapi jika saya hanya berfikiran pada kue pie
orang lain terlalu hangus dan tidak enak dimakan, maka saya seperti hidup di
sebuah bilik. Kalian tahu kan “bilik” ? Diksi bahasa dimana disini saya hidup
hanya dikotak kecil nan sempit.
Disini,
saya tidak mengajukan protes pada teman saya bahkan pemerintah. Karena ini
justru hal yang wajar bagi warga Indonesia, dimana pada sila pertama Pancasila
yang berbunyi, “Ketuhanan Yang Maha Esa” artinya warga Indonesia mengakui bahwa
Tuhan itu satu. Maka dari situlah, kenapa di ktp, dokumen, formulir
pendaftaran, dan semua hal yang berhubungan dengan identitas di Indonesia
selalu disertakan Agama.
Disini,
saya hanya tidak mau menjadikan dunia saya seperti hidup dibilik kecil. Padahal
saya hidup di dunia luas, dimana di Indonesia ini mempunyai berbagai macam suku
dan hebatnya di Indonesia mempunyai
slogan “Bhineka Tunggal Ika” kalau kata iklan teh sih “Apapun Makanannya….minumnya
the botol***”. So, apa kita diam begitu saja jika saudara kita terluka? Apa kita
diam begitu saja jika orang yang kita kasihi ternyata sedang
membutuhkan kopi, padahal kita malah membeli dua cangkir kopi penuh?
Mungkin saja ini dikarenakan saya yang sedari kecil memang dididik ibu, bapak, kakak dan lingkungan saya dengan menebar
dharma itu sama saja menebar benih bunga yang selalu disiram tiap pagi….memang
bukan mobil merci yang tumbuh tapi bunga yang bersemi indah menyejukkan rumah…
Dan semua itu adalah pelajaran PPKN……….
Karena
hidup di sebuah bilik itu ternyata sempit……
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Senja
menepi
Pada sang peneduh hati
Ada
resah menanti
Dibalik
bilik hati……
Pukul lima
@StarbuckParagon
Semarang, 4/25/2014, 9:52 PM
Music: Sepi – Are You Alone? (AYA)-
PS: Whatever who you are!
You Definitely Human
And we’re equal in this entire world
Tidak ada komentar:
Posting Komentar