4.04.2014

Lagu untuk kekasihku, senja jum'at pukul lima!

Pukul lima
Siang berganti senja
Gerah berganti teduh
Namun ramai tetaplah
R.A.M.A.I !
Kunang2Merah
@AngkotJurusanKrAyu-Penggaron
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Yak jesss!!!!  Akhirnya besok weekend! Dan besok libur……..horeeee…
Lurusin badan…… mulai ketik-ketik…dah!
Sebelumnya saya mau  nyanyik sedikit boleh ya? Liriknya sih begini:
I believe that tomorrow is stronger than yesterday… And I believe that your head is the only thing in your way… I wish that you could see  your scars turn into beauty… I believe that today it’s okay to be not okay …This is not the end of me, this is the beginning(Hold on)”¯ ¯¯¯

    Lagu dari mbak Christina Perri yang ini membuat saya terlena di angkot sore ini sepulang kerja. Sampai pada akhirnya saya lupa menghentikan angkot untuk berhenti di pengkolan depan gang arah kost. Sebel? Tidak juga sih! Toh saya masih bisa menghentikan angkot dipengkolan berikutnya. Malah saya beruntung, radio angkot sore ini mempertemukan saya dengan lagu ini.
Lagu ini sanggup membawa saya mengawang kebelakang, mengingat apa yang terjadi seminggu ini, tiga bulan yang lalu, bahkan jauh kebelakang dimana saya masih berseragam putih biru. Memang kelihatannya sangat random dan chaos tapi hal-hal kecil seperti itulah yang membuat saya bersyukur.
Orang bilang tidak baik mengingat apa yang ada dibelakang dan menganggap yang sudah terjadi biarlah terjadi. Tapi terkadang orang suka lupa kalau masa-masa itu haruslah diingat dengan begitu kita bisa berkaca bagaimana diri kita sekarang. Karena setiap satu detik, sadar atau tidak pribadi itu makin lama makin mengalami perubahan.
Saya berubah?
Jelas!
Jika tidak, berarti saya tidak belajar dari masa-masa sebelumnya yang menjadikan pendewasaan makin matang. Satu contoh, dulu ketika masih berseragam putih biru saya selalu sebal jika ibu memasak tak sesuai dengan selera saya padahal yang tinggal dirumah kan bukan saya saja! Mana ngarti saya dengan budge bulanan yang penting perut keisi. Sekarang? Menghargai makanan dan syukur itu harus plus penting, karena diluar sana masih banyak orang yang belum tentu bisa beli beras hari ini.
Dulu saya benci sekali berangkat sekolah, karena harus bawa buku banyak dan takut dihukum karena tidak mengerjakan PR. Sekarang? Sadar bahwa pendidikan itu penting karena dialah pangkal dari perubahan Negara dan sistem didalamnya. Dulu saya menganggap bahwa ajaran kejawen itu gak make sense di otak saya karena semuanya abstrak. Sekarang? Saya mengerti bahwa budaya intangible atau budaya tak bendawi itu ya adanya di hati dan diperlukan hati untuk melihatnya. Dan masih banyak lagi yang kemudian saya ingat kata-kata yang sering saya ucap ke adek-adek angkat saya dan anak-anak saya yang sekarang mereka sudah beranjak mungkin 7 tahun, mungkin 8 tahun atau mungkin 15 tahun.
Bahwa “Siapapun kamu…darimanapun kamu berasal….lingkunganmu seperti apa….anak nelayan kah…. anak orang kantoran…anak  pasteur…anak  orang biasa…anak  broken home….sukses itu ya milik kamu seorang… bagaimanapun kamu memandang sukses itu, yang penting tetapkan apa-apa saja yang jadi inginmu…lalu cari cara…untuk meraihnya” Kata-kata yang kurang lebihnya terus saya ulang buat mereka.
Lalu, bagaimana dengan saya? Ya! saya? Saya juga belum sukses juga sih! Tapi kan saya sudah bilang disitu tuh. Mindset sukses orang itu beda ya, bro! Ada sebagian teman wanita saya yang menyatakan sukses buat wanita itu ya jadi istri sholehah, berbakti sama suami, dan bisa kasih anak. Ada juga yang bilang sukses buat wanita itu ya…. yang bisa kongkow-kongkow di cafĂ© mahal, punya kartu kredit sendiri, punya investasi, bisa keluar masuk lounge seminggu 3kali dan sukses mbribik dengan pria yang aktifitasnya melebihi si wanita. Ada juga yang bilang, sukses buat wanita itu ya yang bisa kasih uang buat adek-adeknya di kampung.
Kalau taraf saya? Bagaimana ya? Hmmmmm………
Maunya sih semua point disitu dirangkap jadi satu dan itulah saya. Tapi?  Ndak 100% juga sih! Pada intinya saya mau seperti itu, tapi tanpa menghilangkan celotehan-celotehan yang silly tentang cita-cita sewaktu kecil. Dimana ternyata satu per satu mulai jalan dan nggak nyangka kalau saya bisa wudjutinnya walaupun ya…jatuh-jatuh dikit sih.
Tapi yang lebih penting lagi sih celotehan saya dengan “WAKTU” Kenapa? Memang kesannnya sih simple kan waktu yang ada cuman detik, menit, dan jam. Tapi itulah hal yang sampai sekarang belum terwujud, karena makin dewasa seseorang makin lupa seseorang dengan waktu. Waktu untuk hidup, waktu untuk bekerja, waktu untuk kongkow, waktu untuk sendiri, dan waktu untuk duduk berdua dengan ibu atau waktu untuk duduk bersama dengan keluarga.
Dulu saya sering bercengkrama dengan kedua orangtua saya seperti teman, sekarang?....(titik-titik)...(titik)..............
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gerimis meredam peluh
Ada waktu yang terus berputar
Dan berbisik lirih
Tik tok…tik…tok…..tik..tok.. Dikory
                             Kunang2Merah
                                @TiraiMerah
Semarang, April 04, 2014,10:00 PM
OST. I Believe –Christina Perri-
PS: Untuk Orang Tuaku,
Jaga kesehatan ya! 
Maaf jika belum sepenuhnya 
meluangkan waktu
 soalnya situ juga sibuk sih! hahaha :D 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar