Pukul lima
Siang berganti senja
Gerah berganti teduh
Namun ramai tetaplah
R.A.M.A.I !
Kunang2Merah
@AngkotJurusanKrAyu-Penggaron
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Yak jesss!!!! Akhirnya besok weekend! Dan besok libur……..horeeee…
Lurusin badan…… mulai ketik-ketik…dah!
Sebelumnya saya mau nyanyik sedikit boleh ya? Liriknya sih
begini:
“I believe that
tomorrow is stronger than yesterday… And I believe that your head is the
only thing in your way… I wish that you could see your scars turn into beauty… I believe
that today it’s okay to be not okay …This is not the end of me, this is
the beginning(Hold on)”¯ ¯¯¯
Lagu dari mbak Christina Perri yang ini membuat saya terlena di angkot sore ini sepulang kerja. Sampai pada akhirnya saya lupa menghentikan angkot untuk berhenti di pengkolan depan gang arah kost. Sebel? Tidak juga sih! Toh saya masih bisa menghentikan angkot dipengkolan berikutnya. Malah saya beruntung, radio angkot sore ini mempertemukan saya dengan lagu ini.
Lagu ini sanggup membawa saya mengawang
kebelakang, mengingat apa yang terjadi seminggu ini, tiga bulan yang lalu,
bahkan jauh kebelakang dimana saya masih berseragam putih biru. Memang
kelihatannya sangat random dan chaos tapi hal-hal kecil seperti itulah yang
membuat saya bersyukur.
Orang bilang tidak baik mengingat apa
yang ada dibelakang dan menganggap yang sudah terjadi biarlah terjadi. Tapi
terkadang orang suka lupa kalau masa-masa itu haruslah diingat dengan begitu
kita bisa berkaca bagaimana diri kita sekarang. Karena setiap satu detik, sadar
atau tidak pribadi itu makin lama makin mengalami perubahan.
Saya berubah?
Jelas!
Jika tidak, berarti saya tidak belajar
dari masa-masa sebelumnya yang menjadikan pendewasaan makin matang. Satu
contoh, dulu ketika masih berseragam putih biru saya selalu sebal jika ibu
memasak tak sesuai dengan selera saya padahal yang tinggal dirumah kan bukan
saya saja! Mana ngarti saya dengan budge bulanan yang penting perut keisi. Sekarang?
Menghargai makanan dan syukur itu harus plus penting, karena diluar sana masih
banyak orang yang belum tentu bisa beli beras hari ini.
Dulu saya benci sekali berangkat sekolah,
karena harus bawa buku banyak dan takut dihukum karena tidak mengerjakan PR.
Sekarang? Sadar bahwa pendidikan itu penting karena dialah pangkal dari
perubahan Negara dan sistem didalamnya. Dulu saya menganggap bahwa ajaran
kejawen itu gak make sense di otak saya karena semuanya abstrak. Sekarang? Saya
mengerti bahwa budaya intangible atau budaya tak bendawi itu ya adanya di hati
dan diperlukan hati untuk melihatnya. Dan masih banyak lagi yang kemudian saya
ingat kata-kata yang sering saya ucap ke adek-adek angkat saya dan anak-anak
saya yang sekarang mereka sudah beranjak mungkin 7 tahun, mungkin 8 tahun atau mungkin
15 tahun.
Bahwa “Siapapun kamu…darimanapun kamu
berasal….lingkunganmu seperti apa….anak nelayan kah…. anak orang kantoran…anak pasteur…anak orang biasa…anak broken home….sukses itu ya milik kamu seorang…
bagaimanapun kamu memandang sukses itu, yang penting tetapkan apa-apa saja yang
jadi inginmu…lalu cari cara…untuk meraihnya” Kata-kata yang kurang
lebihnya terus saya ulang buat mereka.
Lalu, bagaimana dengan saya? Ya! saya?
Saya juga belum sukses juga sih! Tapi kan saya sudah bilang disitu tuh. Mindset
sukses orang itu beda ya, bro! Ada sebagian teman wanita saya yang menyatakan
sukses buat wanita itu ya jadi istri sholehah, berbakti sama suami, dan bisa
kasih anak. Ada juga yang bilang sukses buat wanita itu ya…. yang bisa
kongkow-kongkow di café mahal, punya kartu kredit sendiri, punya investasi,
bisa keluar masuk lounge seminggu 3kali dan sukses mbribik dengan pria yang
aktifitasnya melebihi si wanita. Ada juga yang bilang, sukses buat wanita itu ya
yang bisa kasih uang buat adek-adeknya di kampung.
Maunya sih semua point disitu dirangkap
jadi satu dan itulah saya. Tapi? Ndak
100% juga sih! Pada intinya saya mau seperti itu, tapi tanpa menghilangkan
celotehan-celotehan yang silly tentang cita-cita sewaktu kecil. Dimana ternyata
satu per satu mulai jalan dan nggak nyangka kalau saya bisa wudjutinnya
walaupun ya…jatuh-jatuh dikit sih.
Tapi yang lebih penting lagi sih celotehan
saya dengan “WAKTU” Kenapa? Memang kesannnya sih simple kan waktu yang ada
cuman detik, menit, dan jam. Tapi itulah hal yang sampai sekarang belum
terwujud, karena makin dewasa seseorang makin lupa seseorang dengan waktu.
Waktu untuk hidup, waktu untuk bekerja, waktu untuk kongkow, waktu untuk
sendiri, dan waktu untuk duduk berdua dengan ibu atau waktu untuk duduk bersama
dengan keluarga.
Dulu saya sering bercengkrama dengan
kedua orangtua saya seperti teman, sekarang?....(titik-titik)...(titik)..............
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gerimis
meredam peluh
Ada waktu
yang terus berputar
Dan berbisik
lirih
Tik tok…tik…tok…..tik..tok..
Dikory
Kunang2Merah
@TiraiMerah
Semarang, April 04, 2014,10:00 PM
OST. I Believe –Christina Perri-
PS: Untuk Orang Tuaku,
Jaga kesehatan ya!
Maaf jika belum sepenuhnya
meluangkan waktu
soalnya situ juga sibuk sih! hahaha :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar