5.07.2014

Kunang- Kunang Merah: Bermain di Dunia “Bee’s”

¯¯¯I know someone standing forward in his believe in….The most person with a big hope and strength…..And a part of him has grown in me….Inspired my whole life he brings me to a new vision of life.. as time goes by¯¯¯
- A Thousand candles lighted (EndahNRhesa) covered noname Indie Band
                                                @Via_ViaCafee- Prawirotaman, Yogyakarta
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Waktu berjalan perlahan tanpa sadar Kunang-Kunang Merah bosan dengan perannya di sekumpulannya. Ia bosan terus menerus bermain bersama sang malam dengan purnama menerangi petualangannya.  Memberi benderang malam di sisi lampu kota yang kian lama meredup tertimpa sang fajar.

Maka dari itu sang Kunang-Kunang Merah meminta restu pada sang ratu dan raja untuk pergi di pagi hari. Ia ingin bermain menjelajah di teriknya matahari. Pada awalnya sang ratu dan raja tidak membolehkannya, meminta Kunang-Kunang Merah tetap tinggal disisi mereka menjadi seorang putri anggun yang didamba oleh sekumpulannya.
“Tidak! Anakku….. kau hanya mempersulit hidupmu saja!” kata sang Raja.
“Tapi Raja… Bagaimana Raja tahu jika itu hanya mempersulit hidupku saja tanpa tahu mencobanya terlebih dahulu?” Kilah sang Kunang-Kunang Merah.
“Tahukah kamu, anakku! diteriknya siang kau takkan benderang merah...seperti nyala lilin. Tak takutkah kamu?” tambah Sang Ratu.
“Ya! aku tahu dan sangat paham Ratu….. diteriknya siang aku hanya seekor serangga biasa. Maka dari itu, aku ingin menjadi seorang serangga biasa tanpa merah nyala dieekorku. Dan itu hanya dapat terjadi ketika aku keluar dari sarang di teriknya siang.” Kunang-Kunang Merah meyakinkan
Atas pertimbangan ketiganya, Sang Raja dan Ratu-pun akhirnya setuju membiarkan Kunang-Kunang bermain di teriknya siang. Kokok ayam mengawali pagi yang indah, dan dimulailah petualangan sang Kunang-Kunang Merah. Keluar dari tepian semak belukar tepi danau, Kunang-Kunang Merah terbang mengikuti hembusan angin. Itulah pertama kalinya ia keluar dari sarangnya sebagai serangga biasa.
Dari atas Kunang-Kunang menikmati sekali hembusan angin pagi, menengok kebawah jalan raya, dan melewati kedai kopi yang membuatnya jatuh cinta dengan aromanya. Menikmati hidup sebagai serangga pagi yang terbang dengan bebasnya. Tapi ada satu yang kemudian ia tambat.
Shit! Kunang-Kunang Merah tertambat dengan suatu tempat dengan banyak bunga di sekelilingnya. Bunga dengan banyak warna, ada yang merah, kuning, ungu, bahkan putih. Ditengahnya ada kolam seperti danau dengan air mancur di tengahnya.  Ditepian tempat itu ada beberapa bangku, dimana ia melihat manusia duduk, membaca buku, bahkan menggendong anaknya. Ya! Ia tertambat dengan taman kota.
Di taman kota itulah kemudian ia bertemu Kupu-Kupu Jantan yang cantik. Kupu-Kupu Jantan itu bertengger di salah satu bunga berwarna merah. Dengan Jantannya ia mengepakkan sayapnya yang begitu lebar berpindah dari satu bunga ke yang lain. Diam-diam Kunang-Kunang Merah memperhatikan sang Kupu-Kupu Jantan dari balik pohon besar.

“Pssssttttt!!!! Apa yang sedang kau lakukan di bawah?” tiba-tiba ada yang berbicara padanya dari arah atas pohon.
“Ohhhh….Tak ada! Aku hanya melihat sekitar saja…” dengan kagetnya sang Kunang-Kunang Merah menjawabnya.
“Melihat sekitar? Memang ada yang aneh di sekitar sini???…. Atau Tunggu! Sepertinya aku tak pernah melihat kau disini….”
“Ohhhh…Iya…iya… aku Kunang-Kunang Merah….ini pertama kalinya aku kesini kamu siapa? Senang bertemu denganmu!” dengan sedikit  takut Kunang-Kunang Merah memperkenalkan dirinya.
“Hahhahahahahahahaha….. Kamu bilang kamu Kunang-Kunang Merah???? Hahahahahaha! Kenapa ekormu tak merah? Panggil saja aku, bee’s!” tawa seekor lebah.
“ Iya…. Ekorku merah hanya saat malam saja. Kalau pagi hari sih! aku sama seperti serangga lain….”
“Lalu, kalau kamu hanya cantik di malam hari, kenapa datang kemari saat pagi hari?”
“Karena aku ingin perpetualang seperti serangga lain saat pagi hari, dan mencari tahu apa yang dilakukan serangga lain saat pagi hari?”
“Maka dari itu kamu dari tadi stalking Kupu-Kupu Jantan yang sedang cari makan”
“Aku tidak stalking…. Aku hanya mengamati!”
“Itu sama saja Kunang-Kunang Merah! Ya sudah ya! aku mau berangkat kerja dulu mencari madu…Selamat stalking!”
“Bee’s, bolehkah aku ikut kamu?”
“Ya Tuhan! Kamu-pun ingin stalking kawananku?”
“Setidaknya aku tahu apa yang kamu kerjakan….boleh ya?”
“Boleh! Tapi kamu tak boleh berisik ya…. karena kamipun sudah cukup berisik!”
“Okay….”
Dibawanyalah sang Kunang-Kunang Merah ke sarang pekerja lebah untuk  melapor sebelum mengumpulkan madu bunga. Dari kejauhan Kunang-Kunang Merah mendengar dengungan teman-teman bee’s berbincang. Karena banyaknya kawanan lebah yang berbincang maka dari itu Kunang-Kunang Merah hanya dapat mendengarnya sebagai dengungan. Dengungan yang dapat dimengerti hanya dari sekelompok saja. Besssssss…..Besssss…..Besssssssss……Bessssssss, begitu berisik dan berdengung….tapi dari semua itu ketika barisan koloni bubar dan bee’s mengajak Kuang-Kunang Merah mencari madu, bee’s tidak sendirian. Ada banyak kawannya yang membantu untuk satu tujuan. Mengumpulkan madu bunga untuk dibawa pulang ke sarang.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
¯¯¯semua yang kucari….berganti nyanyian pagi….tangisan dan tawanya…sejukkan hati bekukan waktu….disini kuberdiri…disini kuhadapi….tak ingin semua berlalu….pancaran tak berwujud¯¯¯
-Pagi(PureSaturday)
Covered by Indie Band
@SebuahKedaiKopi di Senturan, Yogyakarta
Semarang, 5/7/2014,10:16 PM
Ost. Thousand Candles lighted
EndahNRhesa
PS: Have you ever heard bee’s talking?
Bee’s talking like people having lunch in coffee shop nowadays,
and today I trap in bee’s talking.



2 komentar:

  1. Like this so much oc

    BalasHapus
  2. hai kau anonim! Tunjukkan muka!!!! :D but well!!! Terima Kasih!

    BalasHapus