“¯¯¯I know
someone standing forward in his believe in….The most person with a big hope and
strength…..And a part of him has grown in me….Inspired my whole life he brings
me to a new vision of life.. as time goes by¯¯¯”
- A Thousand candles lighted (EndahNRhesa)
covered noname Indie Band
@Via_ViaCafee-
Prawirotaman, Yogyakarta
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Waktu
berjalan perlahan tanpa sadar Kunang-Kunang Merah bosan dengan perannya di sekumpulannya.
Ia bosan terus menerus bermain bersama sang malam dengan purnama menerangi
petualangannya. Memberi benderang malam
di sisi lampu kota yang kian lama meredup tertimpa sang fajar.
Maka
dari itu sang Kunang-Kunang Merah meminta restu pada sang ratu dan raja untuk
pergi di pagi hari. Ia ingin bermain menjelajah di teriknya matahari. Pada
awalnya sang ratu dan raja tidak membolehkannya, meminta Kunang-Kunang Merah
tetap tinggal disisi mereka menjadi seorang putri anggun yang didamba oleh
sekumpulannya.
“Tidak! Anakku….. kau hanya mempersulit
hidupmu saja!” kata sang Raja.
“Tapi
Raja… Bagaimana Raja tahu jika itu hanya mempersulit hidupku saja tanpa tahu
mencobanya terlebih dahulu?” Kilah sang Kunang-Kunang Merah.
“Tahukah
kamu, anakku! diteriknya siang kau takkan benderang merah...seperti nyala
lilin. Tak takutkah kamu?” tambah Sang Ratu.
“Ya!
aku tahu dan sangat paham Ratu….. diteriknya siang aku hanya seekor serangga
biasa. Maka dari itu, aku ingin menjadi seorang serangga biasa tanpa merah
nyala dieekorku. Dan itu hanya dapat terjadi ketika aku keluar dari sarang di
teriknya siang.” Kunang-Kunang Merah meyakinkan
Atas pertimbangan ketiganya, Sang Raja
dan Ratu-pun akhirnya setuju membiarkan Kunang-Kunang bermain di teriknya
siang. Kokok ayam mengawali pagi yang indah, dan dimulailah petualangan sang
Kunang-Kunang Merah. Keluar dari tepian semak belukar tepi danau, Kunang-Kunang
Merah terbang mengikuti hembusan angin. Itulah pertama kalinya ia keluar dari
sarangnya sebagai serangga biasa.
Dari atas Kunang-Kunang menikmati sekali
hembusan angin pagi, menengok kebawah jalan raya, dan melewati kedai kopi yang
membuatnya jatuh cinta dengan aromanya. Menikmati hidup sebagai serangga pagi
yang terbang dengan bebasnya. Tapi ada satu yang kemudian ia tambat.
Shit! Kunang-Kunang Merah tertambat
dengan suatu tempat dengan banyak bunga di sekelilingnya. Bunga dengan banyak
warna, ada yang merah, kuning, ungu, bahkan putih. Ditengahnya ada kolam
seperti danau dengan air mancur di tengahnya. Ditepian tempat itu ada beberapa bangku,
dimana ia melihat manusia duduk, membaca buku, bahkan menggendong anaknya. Ya!
Ia tertambat dengan taman kota.
Di taman kota itulah kemudian ia bertemu
Kupu-Kupu Jantan yang cantik. Kupu-Kupu Jantan itu bertengger di salah satu
bunga berwarna merah. Dengan Jantannya ia mengepakkan sayapnya yang begitu
lebar berpindah dari satu bunga ke yang lain. Diam-diam Kunang-Kunang Merah
memperhatikan sang Kupu-Kupu Jantan dari balik pohon besar.
“Pssssttttt!!!!
Apa yang sedang kau lakukan di bawah?” tiba-tiba ada yang berbicara padanya
dari arah atas pohon.
“Ohhhh….Tak
ada! Aku hanya melihat sekitar saja…” dengan kagetnya sang Kunang-Kunang Merah
menjawabnya.
“Melihat
sekitar? Memang ada yang aneh di sekitar sini???…. Atau Tunggu! Sepertinya aku
tak pernah melihat kau disini….”
“Ohhhh…Iya…iya…
aku Kunang-Kunang Merah….ini pertama kalinya aku kesini kamu siapa? Senang
bertemu denganmu!” dengan sedikit takut
Kunang-Kunang Merah memperkenalkan dirinya.
“Hahhahahahahahahaha…..
Kamu bilang kamu Kunang-Kunang Merah???? Hahahahahaha! Kenapa ekormu tak merah?
Panggil saja aku, bee’s!” tawa seekor lebah.
“
Iya…. Ekorku merah hanya saat malam saja. Kalau pagi hari sih! aku sama seperti
serangga lain….”
“Lalu,
kalau kamu hanya cantik di malam hari, kenapa datang kemari saat pagi hari?”
“Karena
aku ingin perpetualang seperti serangga lain saat pagi hari, dan mencari tahu
apa yang dilakukan serangga lain saat pagi hari?”
“Maka
dari itu kamu dari tadi stalking Kupu-Kupu Jantan yang sedang cari makan”
“Aku
tidak stalking…. Aku hanya mengamati!”
“Itu
sama saja Kunang-Kunang Merah! Ya sudah ya! aku mau berangkat kerja dulu
mencari madu…Selamat stalking!”
“Bee’s,
bolehkah aku ikut kamu?”
“Ya
Tuhan! Kamu-pun ingin stalking kawananku?”
“Setidaknya
aku tahu apa yang kamu kerjakan….boleh ya?”
“Boleh!
Tapi kamu tak boleh berisik ya…. karena kamipun sudah cukup berisik!”
“Okay….”
Dibawanyalah sang Kunang-Kunang Merah ke
sarang pekerja lebah untuk melapor sebelum
mengumpulkan madu bunga. Dari kejauhan Kunang-Kunang Merah mendengar dengungan
teman-teman bee’s berbincang. Karena banyaknya kawanan lebah yang berbincang
maka dari itu Kunang-Kunang Merah hanya dapat mendengarnya sebagai dengungan.
Dengungan yang dapat dimengerti hanya dari sekelompok saja. Besssssss…..Besssss…..Besssssssss……Bessssssss,
begitu berisik dan berdengung….tapi dari semua itu ketika barisan koloni bubar
dan bee’s mengajak Kuang-Kunang Merah mencari madu, bee’s tidak sendirian. Ada
banyak kawannya yang membantu untuk satu tujuan. Mengumpulkan madu bunga untuk
dibawa pulang ke sarang.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
“¯¯¯semua yang kucari….berganti
nyanyian pagi….tangisan dan tawanya…sejukkan hati bekukan waktu….disini
kuberdiri…disini kuhadapi….tak ingin semua berlalu….pancaran tak berwujud¯¯¯”
-Pagi(PureSaturday)
Covered by Indie Band
@SebuahKedaiKopi di Senturan, Yogyakarta
Semarang, 5/7/2014,10:16 PM
Ost. Thousand Candles lighted
EndahNRhesa
PS: Have you ever heard bee’s talking?
Bee’s talking like people having lunch in coffee
shop nowadays,
and today I trap in bee’s talking.

Like this so much oc
BalasHapushai kau anonim! Tunjukkan muka!!!! :D but well!!! Terima Kasih!
BalasHapus