6.21.2014

Sebuah Senja untuk Lelaki Sederhana

Menikmat senja di atap
Langit kota
Ada mega  menatap
Menyelinap  di punuk sang surya….
                             @Horapa
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerpen ini inspirasi dari sebuah foto, Senja kala itu!

Senja di Pojok Prawirotaman, Jogjakarta

Mendung hari ini tak membuat kota meredam hawa panas. Jalan raya tetap sibuk dibuatnya. Ah! Kota… Madu dan racun kau tawarkan. Kiranya memang sudah hampir 5 tahun saya disini. Mencicip setiap sisimu, tak peduli kau membuat saya sesak ataupun makin berdahaga. Menjadikan seorang perempuan abisius seperti saya membulatkan tekat menaklukanmu.


Nama saya Jasmine. Seorang perempuan desa yang tergerus arus kota. Menjadikan melati bertubuh anggrek. Begitu suci dan sederhana namun tangguh dan tidak mudah menyerah. Tetapi setelah saya pikir, betulkah saya masih sesuci yang kau bayangkan? Saya rasa kamu akan berfikiran sama negatifnya dengan saya.
Jika kamu setuju saya tak sesuci dengan pertama kali saya menginjakkan kaki dibibir kota, turun dari  mini bus reot di terminal bus dengan menenteng ransel serta  ijasah SMA, dan dengan bau solar di tubuh. Saya tak masalah! Toh, nyatanya itu memang sudah 5 tahun kebelakang, kan. Dan disini, saya masih mennyecap kota…membunuh sepi sendiri. Ditempat biasa saya menulis, kedai kopi.
PESAN: SATU LAKI-LAKI SEDERHANA UNTUK  MEMINANGKU!
“Tulisan macam apa itu, absurd!” baru saja mulai menulis, suara dibelakang sudah berkomentar bak timeline twitter.
“Saya yang nulis! Kenapa situ yang berkomentar? Nggak Kerja?” Timpal saya pada Delonix Regia Situmorang. Si pemilik café sekaligus teman sejawat saya semasa kuliah. Pria flamboyan berdarah padang dan medan.
“Aku…kan bos-nya disini! Yang kerja ya karyawan aku lah! Tumben… lunch udah ada disini. Nggak kerja?” balas si anak juragan kebun kopi medan yang kuliah bisnis sambil modal jualan kopi medan-nya disini.
“Auchhhh!!! Pertanyaan situ menohok yah! Kan situ tahu kantor saya itu cuman ada dua ya….”
“ya…itu…. Kamar 3X4 situ dan kedai kopi aku kan?”
“Nah situ tahi! Eh! Tahu!”
“Nulis apaan lagi sih…. bitchy writer aku?”
“Nggak bisa baca!”
“bisa sih! tapi rasa-rasanya kok kurang sexy gitu loh!”
“Ini tuh justru sexy lagi! Dreaming a simple guy for marrying you…..”
“Iya madsut situ yang emang benar-benar dreaming buat ditidurin”
“Lah! Kok gitu!”
“Ya! absurd lah kalau kamu yang dreaming!”
“lha emang kenapa to? kalau aku yang dreaming….  nggak boleh gitu seorang perempuan dewasa bermimpi?”
“Mimpi sih boleh! Tapi lebih realistis aja deh!”
“Fiksi ditulis kan buat menghindari kenyataan, iya to?”
“Iya! Aku ngerti! Tapi kalau si tokoh kamu gambarkan kamu, ya gak real lah! Terlalu mengada-ada”
“Terlalu mengada-ada gimana? Karena orang bilang hidup saya terlalu hedonis? Tahu apa kamu tentang hedonis!”
“Bukannya  wanita umur 22 tahun dimasa sekarang rata-rata seperti ini, yang mandiri, punya karier, suka ngopi, suka ke konser band indie, rave party nggak ada bedanya-kan sama kamu yang tiap weekend ke-club, ngecengi dj-dj cantik tapi nggak jelas… lalu apa salahnya mendambakan seorang yang sederhana untuk dinikahi”
“Ya timpang lah, bitchy writer!”
“Timpang bagaimana?”
“Timpang kalau tokohnya tidak ada sisi kesederhanaannya…”
“karena beda itu boleh! Tapi kalau terlalu berbeda…. Lain lagi! Sama hal-nya kau bicarakan Muhammad dan Yesus untuk untuk jadi satu….dan pembaca lagi-lagi seperti dikotbahi”
“Lalu, saya harus bagaimana? Judul diubah?”
“Tak usahlah kau mengubah-nya! Judul-nya sih sudah tepat…hanya saja tokoknya perlu ditampilkan kearifan wanita selepas SMA turun dari bus kota dengan peluh bau solar…mengembalikan diri sendiri 5 tahun kebelakang saat wanita itu tertipu oleh kenek bus dan berkenalan dengan seorang anak Medan bernama Delonix Regia Situmorang” Delon tertegun menatapku lekat… menyingsingkan kedua lengan kemejanya tanpa berkata-kata.
“Apa madsudnya? Dengan ketemu kamu?”
Tiba-tiba suasana menjadi dingin dan senyap, seakan tercipta kaku aku dibuatnya. Ia menarik buku note saya dan menuliskan sesuatu untuk saya. Raut muka-nya berubah serius. Ditengah diam suara musik akustik  menyeruak keluar kedai. Saya mengamati sekeliling, dan bingung….kenapa musik-nya berubah gini? Yang semula Katty Perry menjadi musik Folks kesukaan saya. Saya kembali menatap Delon, hendak menanyakan apa arti semua ini. Dan dia menyelesaikan tulisannya. Seketika, saya nanar dibuatnya….
Dia merengkuh tangan saya…..
 “Jasmine Btari Rengganis, Will you marry me?”
“……………” saya masih terdiam tak menyangka. Ia melamar saya
“Yes, I do” Tak ada alasan lagi bagi saya untuk menolaknya, karena sebuah tulisan yang ia buat membuatku percaya akan seorang laki-laki sederhana itu. Pertemanan yang sanggup membawa saya mengerti akan seorang yang sederhana.
Mungkin kota membawakan banyak gula-gula, riuh-ramai di hidup saya tapi seorang yang sederhana, perhatian, dan penyelamat itulah yang membuat saya terpana. Membuat saya memikirkan untuk pergi dari tempat 3X4 saya, dan ialah alas an saya, ialah  teman saya. Namanya Delonix Regia Situmorang. Sang bunga Flamboyan Situmorang. Sang flamboyan dari medan.
Jika kalian ingin tahu apa yang ditulis Ia……
Saya akan beberkan…..
“MBAK PESANNANNYA SUDAH SIAP!
LAKI-LAKI SEDERHANA YANG AKAN MEMINANG MBAK SUDAH ADA DI DEPAN, MBAK! SAYA KASIH KARET MERAH 2 YA! SOALNYA PEDES! (sebagian text ‘romantisnya’ hilang)”

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Senja memerah
Dibawah payung rindu
Selamakah  itu ia menunggu
Meredam amarah
                   @Horapa
Semarang, 19 June 2014, Pukul 5:00 PM
OST. Forget Jakarta –Aditya Sofyan-

PS: Thank’s for the modus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar