Menikmat senja di atap
Langit kota
Ada mega menatap
Menyelinap di
punuk sang surya….
@Horapa
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerpen ini inspirasi dari sebuah foto, Senja kala itu!
![]() |
| Senja di Pojok Prawirotaman, Jogjakarta |
Mendung hari ini tak
membuat kota meredam hawa panas. Jalan raya tetap sibuk dibuatnya. Ah! Kota…
Madu dan racun kau tawarkan. Kiranya memang sudah hampir 5 tahun saya disini.
Mencicip setiap sisimu, tak peduli kau membuat saya sesak ataupun makin
berdahaga. Menjadikan seorang perempuan abisius seperti saya membulatkan tekat
menaklukanmu.
Nama saya Jasmine.
Seorang perempuan desa yang tergerus arus kota. Menjadikan melati bertubuh
anggrek. Begitu suci dan sederhana namun tangguh dan tidak mudah menyerah.
Tetapi setelah saya pikir, betulkah saya masih sesuci yang kau bayangkan? Saya
rasa kamu akan berfikiran sama negatifnya dengan saya.
Jika kamu setuju saya
tak sesuci dengan pertama kali saya menginjakkan kaki dibibir kota, turun
dari mini bus reot di terminal bus
dengan menenteng ransel serta ijasah
SMA, dan dengan bau solar di tubuh. Saya tak masalah! Toh, nyatanya itu memang
sudah 5 tahun kebelakang, kan. Dan disini, saya masih mennyecap kota…membunuh
sepi sendiri. Ditempat biasa saya menulis, kedai kopi.
PESAN: SATU
LAKI-LAKI SEDERHANA UNTUK MEMINANGKU!
“Tulisan macam apa itu,
absurd!” baru saja mulai menulis, suara dibelakang sudah berkomentar bak
timeline twitter.
“Saya yang nulis!
Kenapa situ yang berkomentar? Nggak Kerja?” Timpal saya pada Delonix Regia Situmorang.
Si pemilik café sekaligus teman sejawat saya semasa kuliah. Pria flamboyan
berdarah padang dan medan.
“Aku…kan bos-nya
disini! Yang kerja ya karyawan aku lah! Tumben… lunch udah ada disini. Nggak
kerja?” balas si anak juragan kebun kopi medan yang kuliah bisnis sambil modal jualan
kopi medan-nya disini.
“Auchhhh!!! Pertanyaan
situ menohok yah! Kan situ tahu kantor saya itu cuman ada dua ya….”
“ya…itu…. Kamar 3X4
situ dan kedai kopi aku kan?”
“Nah situ tahi! Eh!
Tahu!”
“Nulis apaan lagi sih….
bitchy writer aku?”
“Nggak bisa baca!”
“bisa sih! tapi
rasa-rasanya kok kurang sexy gitu loh!”
“Ini tuh justru sexy
lagi! Dreaming a simple guy for marrying you…..”
“Iya madsut situ yang
emang benar-benar dreaming buat ditidurin”
“Lah! Kok gitu!”
“Ya! absurd lah kalau
kamu yang dreaming!”
“lha
emang kenapa to? kalau aku yang dreaming….
nggak boleh gitu seorang perempuan dewasa bermimpi?”
“Mimpi sih boleh! Tapi
lebih realistis aja deh!”
“Fiksi ditulis kan buat
menghindari kenyataan, iya to?”
“Iya!
Aku ngerti! Tapi kalau si tokoh kamu gambarkan kamu, ya gak real lah! Terlalu
mengada-ada”
“Terlalu
mengada-ada gimana? Karena orang bilang hidup saya terlalu hedonis? Tahu apa
kamu tentang hedonis!”
“Bukannya wanita umur 22 tahun dimasa sekarang
rata-rata seperti ini, yang mandiri, punya karier, suka ngopi, suka ke konser
band indie, rave party nggak ada bedanya-kan sama kamu yang tiap weekend
ke-club, ngecengi dj-dj cantik tapi nggak jelas… lalu apa salahnya mendambakan
seorang yang sederhana untuk dinikahi”
“Ya timpang lah, bitchy
writer!”
“Timpang bagaimana?”
“Timpang kalau tokohnya
tidak ada sisi kesederhanaannya…”
“karena beda itu boleh!
Tapi kalau terlalu berbeda…. Lain lagi! Sama hal-nya kau bicarakan Muhammad dan
Yesus untuk untuk jadi satu….dan pembaca lagi-lagi seperti dikotbahi”
“Lalu, saya harus
bagaimana? Judul diubah?”
“Tak usahlah kau
mengubah-nya! Judul-nya sih sudah tepat…hanya saja tokoknya perlu ditampilkan
kearifan wanita selepas SMA turun dari bus kota dengan peluh bau
solar…mengembalikan diri sendiri 5 tahun kebelakang saat wanita itu tertipu
oleh kenek bus dan berkenalan dengan seorang anak Medan bernama Delonix Regia
Situmorang” Delon tertegun menatapku lekat… menyingsingkan kedua lengan
kemejanya tanpa berkata-kata.
“Apa madsudnya? Dengan
ketemu kamu?”
Tiba-tiba suasana menjadi
dingin dan senyap, seakan tercipta kaku aku dibuatnya. Ia menarik buku note
saya dan menuliskan sesuatu untuk saya. Raut muka-nya berubah serius. Ditengah
diam suara musik akustik menyeruak
keluar kedai. Saya mengamati sekeliling, dan bingung….kenapa musik-nya berubah
gini? Yang semula Katty Perry menjadi musik Folks kesukaan saya. Saya kembali
menatap Delon, hendak menanyakan apa arti semua ini. Dan dia menyelesaikan
tulisannya. Seketika, saya nanar dibuatnya….
Dia merengkuh tangan
saya…..
“Jasmine Btari Rengganis, Will you marry me?”
“……………” saya masih
terdiam tak menyangka. Ia melamar saya
“Yes, I do” Tak ada
alasan lagi bagi saya untuk menolaknya, karena sebuah tulisan yang ia buat
membuatku percaya akan seorang laki-laki sederhana itu. Pertemanan yang sanggup
membawa saya mengerti akan seorang yang sederhana.
Mungkin kota membawakan
banyak gula-gula, riuh-ramai di hidup saya tapi seorang yang sederhana,
perhatian, dan penyelamat itulah yang membuat saya terpana. Membuat saya
memikirkan untuk pergi dari tempat 3X4 saya, dan ialah alas an saya, ialah teman saya. Namanya Delonix Regia Situmorang.
Sang bunga Flamboyan Situmorang. Sang flamboyan dari medan.
Jika kalian ingin tahu
apa yang ditulis Ia……
Saya akan beberkan…..
“MBAK PESANNANNYA SUDAH SIAP!
LAKI-LAKI SEDERHANA YANG AKAN MEMINANG MBAK SUDAH ADA DI
DEPAN, MBAK! SAYA KASIH KARET MERAH 2 YA! SOALNYA PEDES! (sebagian text
‘romantisnya’ hilang)”
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Senja memerah
Dibawah payung rindu
Selamakah
itu ia menunggu
Meredam amarah
@Horapa
Semarang, 19 June 2014, Pukul 5:00 PM
OST. Forget Jakarta –Aditya Sofyan-
PS: Thank’s for the modus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar