9.14.2014

#BackPacker: Suara Awan: Bromo



Ketika jiwa dikunci
Sepi yang dirasa
Ketika hati sunyi
Tuhan, berbicara
       @Bukit Teletubbies
====================================================================================
Hello….. Travelnista…. Baru-baru ini saya ngulik-ngulik lagi diary virtual saya….
Dan ternyata memang ada cerita yang belum  saya tepati untuk dibagi yaitu YogyaPart2 dan Bromo….
Meanwhile, ngoprek-ngoprek isi kepala tetang YogyaPart2 …. Saya cerita dulu ya tentang hal spiritual  dari Bromo
Oke, It will begin it with……….
Namaste, Bromo-Tengger-Semeru!
Jam 1 Pagi Waktu Indonesia bagian Terminal Arjosari, Kami-Saya, mbak Tika, mbak Ayla, mas micky- nunggu jemputan jeep untuk menikmati Bromo dan keindahannya. Di bawah purnama dan warung-warung kecil terminal dan ibu-ibu penjual apel kami menunggu.  Tick…tock…tick…Tock…. Akhirnya yang ditunggu nongol. Pak Aris, driver kita dengan jeep merahnya yang akan membawa kami untuk berpetualang. 
Perjalananpun dimulai  dari udara yang  biasa kemudian menjadi dingin, dari yang awalnya perjalanan dengan sisi kanan dan kiri rumah sampai hanya kita saja yang menyusuri jalan berkelok, berbatu, terjal, curam dan lalalalalalala….kemudian sampailah kita di pintu masuk  gunung Bromo.  Biaya untuk masuk ke pintu gerbang  sekitar 6000 untuk lokal dan untuk nondomestik sekitar 20000. Karena Pada saat itu rombongan kami ada yg non domestik 2 jadi biaya hanya dikenakan pada mereka. Jadi tips-nya dari Pak Aris, bawalah teman nondomestik kalian hahahahaha…. :D
Mungkin sekitar jam 3 Pagi kami sampai disana, dan petualangan yang mahadasyatpun dimulai… suhu turun sampai sekitar 8  derajat . Saya dan mbak tika sudah kedinginan menggigil dibuatnya. Apalagi saya yang notabene lahir dan tinggal di daerah Pantai nan tropis. Entah lapisan ke berapa  lagi kami membalut tubuh. Tapi ada 3 orang super yang katanya dinginnya biasa aja, siapalagi kalau tidak Pak Aris, mbak ayla, dan mas micky. Memang sih ketiganya sudah biasa dengan suhu yang sedingin ini. Apalagi Pak Aris yang kerjaannya nganterin naik-turun pelancong.  Jadi, pakai celana pendekpun gak kerasa katanya.
Di tengah perjalanan menuju penajakan, Pak Aris tiba-tiba menghentikan mobilnya dan izin untuk kebelakang(Pipis in whatever that you want) asal ada semak urusan kebelakang kelar.  Dan pada saat itulah kita berempat ikut turun. In the midle of now where, saya melihat sekitar…diantara bukit, purnama, dan edelwise saya mendengar jiwa  yang selama ini ada tapi mungkin karena  kehidupan kota mereka meredam. Saya mendengar suara alam, hamparan bintang berkelap-kelip, terkadang ada meteor jatuh satu dan dua. Angin yang berhembus  dan edelwise yang mengkristal karena suhu. Hidup saya seakan terhenti dan melambat.
Fajarpun pelan-pelan mulai menyapa, kami berburu waktu untuk melihat sunrise di penanjakan. Sekitar jam 4 pagi kami telah tiba di post penanjakan. Deretan mobil jeep mengantri berjejeran.  Sebelum kami naik, enak juga sih nge-pop mie dan ngopi bersama driver-driver berbicara tentang Bromo dan Semeru sambil pilih-pilih mantel buat lapisan berikutnya.
4.20, kami naik bersama ratusan orang….dari berbagai tempat bukan hanya Indonesia saja tapi seluruh dunia. Dan inilah kenikmatan jiwa….. yang tak bisa diganti….
 
 

Di sebelah juga ada selasar buat sholat, menghadap Tuhan Yang Maha Esa di sebuah subuh di Bromo. Dan hati kembali terobati….karena Tuhan.
Matahari mulai naik…. Unstoppable landscape dari Tuhan tak henti-hentinya  saya dibuatNYa kagum. Pagi menjelang dan keindahan Bromo nampak seperti Negeri diatas awan.  Sampailah kami pada tantangan pertama, yaitu jalan menuju  Bromo. Eitss tunggu….Sebelum kita naik 250 anak tangga, terlebih dulu harus berjalan mendaki bukit pasir sekitar. Kalau gak mau capek, bisa naik Kuda Rp 100000. Karena berat kita yang tidak memungkinkan, mari kita jalan! Kasihan kudanya juga kaleee….
Huhhhhhahahahahhuhhhahhh….. engos-engosan naik  ditambah 250 anak tangga. Mari lanjut! Tantangan kedua, yaitu berjalan ditepi Bromo. Kalau yang ini saya akui, saya kalah!  Karena begitu lihat kawah Bromo dan tepinya mendadak kaki lemas. Dan Hal ternyesek ketiganya, Banyak sekali  orang-orang nondomestik  bawa pasangannya…melamar …kasih edelweiss  terus pelukan  terus ciuman sementara saya single. Tapi saya gak nyesel kok, kan turunya ditutup makan Bakso Malang di Bromo. Eidan!!!
Kalian piker perjalan udah usai, Belum bro! ada dua tempat lagi yang kita musti kunjungi. Tempat kedua kali ini yang bikin saya ‘mrebes mili’ dibuatNYA. Bukit Teletubbies, jajaran bukit yang memanjang seperti  rumah  twingkiwingkie, dipsy, lala, dan po inilah destinasi kedua kita. Mendengar suara alam ditengah  bukit dengan angin yang menderu serta burung berkicau itu rasanya obat jiwa ketika jiwa butuh asupan . Dan dibukit inilah saya sanggup meneteskan air mata mengulah ketika  pertama menjadi dewasa dan masalah-masalah yang ada dan itu semua membuat saya bersyukur.

Puas  checkrak cekrek….. dan curhat di bukit Teletubbies . Kita menuju ke tempat ketiga. Air Terjun Coban Pelangi. Oke. Anggapan saya kita hanya pergi dengan berjalan beberapa meter saja setelah sampai. Tapi tidak anak muda, kalian harus berjalan sekitar  500 meter dengan jalan yang licin dan berkelok untuk bias menikmati indahnya air terjun. That day we didn’t get a luck, karena udara agak mendung dan embun belum mengabur jadi kami tidak mendapati si air terjun  dengan pelangi dibawahnya . Meskipun seperti itu, Air terjun coban Pelangi cukup membuat  badan segar kembali selepas berpetualangan. Oh ya, harga untuk masuk cukup murah sekitar Rp 5000 untuk tiket masuk Parkir Rp 2000.
Nah! Perjalanan musti kita usai kali ini…..
Kaki , badan serta typus memang setelah itu mendera….. 
 
Tapi ada hal yang penting lagi 
           dari semua itu….
Obat hati…..
               Salam rinduku....
           untuk kalian Teman….
    Bromo –Tengger-Semeru.

Soundtrack: 
https://soundcloud.com/layur/suara-awan
============================================================================
“Merasa sia-sia jika Minggu malam yg sangat baik ini tak melakukan suatu apapun. Maka ini dia suara-suara yg tiba saja tercetus dari mana entah datangnya dan kemudian memaksakan utk merekamnya. Selamat mendengarkan teruntuk siapa saja, petikan-petikan sederhana tanpa kata, namun tak lain selalu ada secuil perasaan yg saya bagi di dalamnya.”
Suara Awan. 13 Oktober 2013” –Layur-

Semarang, 14 Sept 2014
NP: Suara Awan –Layur
PS: Happy Birthday, my dearest friend along Hamburg
Sehat selalu, mbak Ayla!








Tidak ada komentar:

Posting Komentar