Ketika jiwa dikunci
Sepi yang dirasa
Ketika hati sunyi
Tuhan, berbicara
@Bukit Teletubbies
====================================================================================
Hello….. Travelnista…. Baru-baru ini
saya ngulik-ngulik lagi diary virtual saya….
Dan ternyata memang ada cerita yang
belum saya tepati untuk dibagi yaitu
YogyaPart2 dan Bromo….
Meanwhile, ngoprek-ngoprek isi kepala
tetang YogyaPart2 …. Saya cerita dulu ya tentang hal spiritual dari Bromo
Oke, It will begin it with……….
Namaste, Bromo-Tengger-Semeru!
Jam 1 Pagi Waktu
Indonesia bagian Terminal Arjosari, Kami-Saya, mbak Tika, mbak Ayla, mas micky-
nunggu jemputan jeep untuk menikmati Bromo dan keindahannya. Di bawah purnama
dan warung-warung kecil terminal dan ibu-ibu penjual apel kami menunggu. Tick…tock…tick…Tock…. Akhirnya yang ditunggu
nongol. Pak Aris, driver kita dengan jeep merahnya yang akan membawa kami untuk
berpetualang.
Perjalananpun
dimulai dari udara yang biasa kemudian menjadi dingin, dari yang
awalnya perjalanan dengan sisi kanan dan kiri rumah sampai hanya kita saja yang
menyusuri jalan berkelok, berbatu, terjal, curam dan lalalalalalala….kemudian sampailah
kita di pintu masuk gunung Bromo. Biaya untuk masuk ke pintu gerbang sekitar 6000 untuk lokal dan untuk
nondomestik sekitar 20000. Karena Pada saat itu rombongan kami ada yg non
domestik 2 jadi biaya hanya dikenakan pada mereka. Jadi tips-nya dari Pak Aris, bawalah teman nondomestik kalian hahahahaha…. :D
Mungkin sekitar jam 3
Pagi kami sampai disana, dan petualangan yang mahadasyatpun dimulai… suhu turun
sampai sekitar 8 derajat . Saya dan mbak
tika sudah kedinginan menggigil dibuatnya. Apalagi saya yang notabene lahir dan
tinggal di daerah Pantai nan tropis. Entah lapisan ke berapa lagi kami membalut tubuh. Tapi ada 3 orang
super yang katanya dinginnya biasa aja, siapalagi kalau tidak Pak Aris, mbak
ayla, dan mas micky. Memang sih ketiganya sudah biasa dengan suhu yang sedingin
ini. Apalagi Pak Aris yang kerjaannya nganterin naik-turun pelancong. Jadi, pakai celana pendekpun gak kerasa
katanya.
Di tengah perjalanan
menuju penajakan, Pak Aris tiba-tiba menghentikan mobilnya dan izin untuk
kebelakang(Pipis in whatever that you want) asal ada semak urusan kebelakang
kelar. Dan pada saat itulah kita
berempat ikut turun. In the midle of now where, saya melihat sekitar…diantara
bukit, purnama, dan edelwise saya mendengar jiwa yang selama ini ada tapi mungkin karena kehidupan kota mereka meredam. Saya mendengar
suara alam, hamparan bintang berkelap-kelip, terkadang ada meteor jatuh satu
dan dua. Angin yang berhembus dan
edelwise yang mengkristal karena suhu. Hidup saya seakan terhenti dan melambat.
Fajarpun pelan-pelan
mulai menyapa, kami berburu waktu untuk melihat sunrise di penanjakan. Sekitar
jam 4 pagi kami telah tiba di post penanjakan. Deretan mobil jeep mengantri
berjejeran. Sebelum kami naik, enak juga
sih nge-pop mie dan ngopi bersama driver-driver berbicara tentang Bromo dan
Semeru sambil pilih-pilih mantel buat lapisan berikutnya.
4.20, kami naik bersama
ratusan orang….dari berbagai tempat bukan hanya Indonesia saja tapi seluruh
dunia. Dan inilah kenikmatan jiwa….. yang tak bisa diganti….
Di sebelah juga ada
selasar buat sholat, menghadap Tuhan Yang Maha Esa di sebuah subuh di Bromo.
Dan hati kembali terobati….karena Tuhan.
Matahari mulai naik…. Unstoppable
landscape dari Tuhan tak henti-hentinya
saya dibuatNYa kagum. Pagi menjelang dan keindahan Bromo nampak seperti
Negeri diatas awan. Sampailah kami pada
tantangan pertama, yaitu jalan menuju Bromo. Eitss tunggu….Sebelum kita naik 250
anak tangga, terlebih dulu harus berjalan mendaki bukit pasir sekitar. Kalau
gak mau capek, bisa naik Kuda Rp 100000. Karena berat kita yang tidak
memungkinkan, mari kita jalan! Kasihan kudanya juga kaleee….
Huhhhhhahahahahhuhhhahhh…..
engos-engosan naik ditambah 250 anak
tangga. Mari lanjut! Tantangan kedua, yaitu berjalan ditepi Bromo. Kalau yang
ini saya akui, saya kalah! Karena begitu
lihat kawah Bromo dan tepinya mendadak kaki lemas. Dan Hal ternyesek ketiganya,
Banyak sekali orang-orang
nondomestik bawa pasangannya…melamar …kasih
edelweiss terus pelukan terus ciuman sementara saya single. Tapi saya
gak nyesel kok, kan turunya ditutup makan Bakso Malang di Bromo. Eidan!!!
Kalian piker perjalan
udah usai, Belum bro! ada dua tempat lagi yang kita musti kunjungi. Tempat
kedua kali ini yang bikin saya ‘mrebes mili’ dibuatNYA. Bukit Teletubbies,
jajaran bukit yang memanjang seperti rumah
twingkiwingkie, dipsy, lala, dan po inilah destinasi kedua kita.
Mendengar suara alam ditengah bukit
dengan angin yang menderu serta burung berkicau itu rasanya obat jiwa ketika
jiwa butuh asupan . Dan dibukit inilah saya sanggup meneteskan air mata
mengulah ketika pertama menjadi dewasa
dan masalah-masalah yang ada dan itu semua membuat saya bersyukur.
Puas checkrak cekrek….. dan curhat di bukit Teletubbies . Kita menuju ke tempat ketiga. Air
Terjun Coban Pelangi. Oke. Anggapan saya kita hanya pergi dengan berjalan
beberapa meter saja setelah sampai. Tapi tidak anak muda, kalian harus berjalan
sekitar 500 meter dengan jalan yang
licin dan berkelok untuk bias menikmati indahnya air terjun. That day we didn’t
get a luck, karena udara agak mendung dan embun belum mengabur jadi kami tidak
mendapati si air terjun dengan pelangi
dibawahnya . Meskipun seperti itu, Air terjun coban Pelangi cukup membuat badan segar kembali selepas berpetualangan. Oh
ya, harga untuk masuk cukup murah sekitar Rp 5000 untuk tiket masuk Parkir Rp
2000.
Nah! Perjalanan musti
kita usai kali ini…..
Tapi ada hal yang
penting lagi
dari semua itu….
dari semua itu….
Obat hati…..
Salam rinduku....
untuk kalian Teman….
untuk kalian Teman….
Bromo –Tengger-Semeru.
Soundtrack:
https://soundcloud.com/layur/suara-awan
Soundtrack:
https://soundcloud.com/layur/suara-awan
============================================================================
“Merasa sia-sia jika Minggu malam yg sangat baik ini tak melakukan
suatu apapun. Maka ini dia suara-suara yg tiba saja tercetus dari mana entah
datangnya dan kemudian memaksakan utk merekamnya. Selamat mendengarkan teruntuk
siapa saja, petikan-petikan sederhana tanpa kata, namun tak lain selalu ada
secuil perasaan yg saya bagi di dalamnya.”
Suara Awan. 13 Oktober 2013” –Layur-
Semarang, 14 Sept 2014
NP: Suara Awan –Layur
PS: Happy Birthday, my dearest friend along Hamburg
Sehat selalu, mbak Ayla!












Tidak ada komentar:
Posting Komentar