Kupu-kupu
terbang
Meninggi ke
arah matahari
Kepak sayap
menatang
Cantik menari
@GigleBoxand
JonasPhoto
=====================================================================================

Suatu sore di hutan kawasan bukit Semarang, lahirlah seorang ulat dari telur seekor betina cantik yang kini sudah tiada. Di atas dahan daun hijau dia clingukan, tengok kiri dan kanan. Tak ada yang serupa dengannya, nyatanya dia ditinggal sendirian. Di tengah bukit jalan Gombel Semarang yang membelah jalan raya. Si ulat kecil hanya mendengar suara kendaraan yang berlalu lalang, terkadang bel kencang sesekali menyeru. Sore semakin meredupkan warnanya dan gelap hampir menyambut, dan ketakutan mulai menghampirinya.
“lalalalalalala…hmmmmm”
dari kejauhan tiba-tiba ia mendengar suara bergumam bernyanyi.
“Siapa disana?” Tanya
sang ulat kecil.
“HAH!” Ia tekejut
“Ada yang memanggilku
kah?” sang suara menyambut
“IYA! Aku dibawah sini….kamu
siapa?” Sahut sang ulat kecil
“EH! Maaf hampir saja
tidak terlihat… Hai, sang ulat kecil!
Aku Photuris Merah…
kamu baru lahir ya?”
“Sepertinya begitu…. “
“Dan saudara kamu mana?”
“NAH! Itu yang aku heran,
selepas lahir aku tak melihat siapapun bahkan saudaraku”
“Mungkin Ibu-ku ketika
terbang lupa jika masih ada telur yang tertinggal….
Dan disinilah aku. Kamu
seperti Ibu-ku bisa terbang, Kamu Kupu-Kupu ya? ”
“Bukan
ulat kecil! Aku Kunang-kunang merah.. memang aku seperti Ibu-mu bisa terbang
tetapi sayapku tak indah hanya bersinar,”
“Tetapi
mana sinarmu? Aku tak lihat!”
“Tunggulah!
Karena sinarku tak memerah jika matahari belum tenggelam”
Matahari semakin
meredup dan tiba-tiba tubuh Photuris memancarkan sinar, menerangi si ulat kecil
dibawahnya. Sekali lagi Photuris bergumam dan bernyanyi, mengoyangkan tubuhnya,
menunjukkan cantik pada sang ulat.
“Kamu
sudah lihat kan! Aku memang punya merah! Oh ya, hampir malam… sebaiknya aku
pulang!” sadar sang Photuris Merah.
“Jangan!”
si ulat kecil mencegahnya
“Kenapa?
Aku harus pulang ke koloniku.”
“Temani…saya….”
Pinta sang ulat kecil.
“Tak
bisa! Pasti Ibu dan Bapak mencariku untuk makan malam”
“Aku
sendiri…” si ulat kecil menunduk
Photuris Merah
menatapnya lekat dan diam. Lalu, ia sejenak berpikir bagaimana jika si ulat
kecil dibawanya ke koloni. Koloni pasti mengerti betapa sepinya sang ulat
kecil.
“Kalau
kamu mau…kamu bisa ikut aku untuk tinggal di dahan daun dekat kubangan
koloniku. Disana kamu bisa cari makan dari daun
yang merambat disekitar kubangan dan sesekali mampir berpesta di
kubangan kami”
“Boleh?”
“Ya!
Bolehlah!”
Maka, diajaklah sang
ulat kecil pindah di dekat koloni Photuris Merah. Butuh cukup waktu lama membawa sang ulat kecil pindah. Maklum, ulat
kecil masih bayi butuh sabar untuk berjalan. Ketika sang ulat kecil sampai ke
koloni Photuris Merah ia terkejut kagum. Banyak kelap-kelip cahaya bukan lampu
yang terbang kesana kemari. Dia menemukan rumah yang dicari.
“Welcome…Home!” Semua
koloni menyambut baik
“Nah! Ulat kecil... sekarang
ini rumahmu!”
“Terima Kasih, Photuris
Merah!”
Akhirnya si ulat kecil
tidak kesepian lagi, dia bisa menghabiskan tawanya bersama koloni Photuris
Merah. Tiap malam sang Raja mengundangnya untuk makan malam. Berpesta dan
bernyanyi dengan kelap-kelip koloni.
Hari demi hari sang
ulat kecil kini sudah menjadi ulat dewasa yang sebentar lagi mencapai fase
berpuasa. Ya! Sebentar lagi dia akan membentuk kepompong. Maka, sehari sebelum
dia menelungkupkan tubuhnya dan terbalut serabut benang, dia dan para koloni
Photuris Merah membuat sebuah pesta farewell kecil.
Di bawah temaran
bintang dan sunyinya kawasan bukit Gombel Semarang, dia bercengkrama untuk
terakhir kalinya sebelum menelungkupkan sepinya selama seminggu.
“Nah! Ulat dewasa… apa
permintaanmu supaya tak kesepian?” Tanya sang Raja
“Raja, kalian tiap
malam bernyanyi dan mengedipkan kelap-kelip cahaya saja sudah cukup”
“Dengan begitu aku tak
merasa sepi…. Karena dengan mendengar kalian, aku tau kalian ada”
“Baiklah! Jika seperti itu…. Selama seminggu tiap
malam kami akan berpesta, menyanyikan lagu dan mengedipkan kelap-kelip cahaya
kami sampai kau keluar dari pupa-mu”
Perintah Raja
“Dan apa pinta kalian jika nanti aku sudah menjadi
kupu-kupu?”
“
Hanya satu ulat kecil, jangan kau lupakan kami dan jangan kau lupakan dirimu
seperti apa dahulu sebelum cantik”
Keesokan harinya sang ulat
dewasa menelungkup terbalut benang-benang halus, sutra dari kepompongnya. Dan
mulai saat itu koloni tiap malam bernyanyi dan benderang di kubangan. Tiap
siang Photuris Merah bercerita tentang sisi kota Semarang yang tiap hari makin
panas dan berpolusi.
Seminggu telah berlalu,
hari yang ditunggu datang. Tak sabar, semua koloni mengitari kepompong. Darr!!!
Pelan-pelan kepompong terbuka. Kaki, Kepala dan sayap mulai nampak. Hari
barupun datang, Photuris Merah menghampiri perlahan.
“Hai! Sleepy Head! Have
a good sleep there?”
“ARGGGGGGGHHHHHH!!!!!
Siapa kalian?” Tiba-tiba sang kupu-kupu terkejut
“Kami yang setiap malam
bernyanyi…. Kamu tidak mendengar!”
“Tidak! Aku baru lahir!
Dan mana mungkin aku punya teman seperti kalian…..”
“Aku seekor Crimson Patch mana mungkin berteman dengan kalian!
Kalian cuman serangga jadi-jadian, tidak cantik sepertiku, tinggalnya
saja di kubangan
Mendengar seperti itu hati Photuris Merah hancur tak percaya. Seakan
semua harapannya hilang. Teman yang ia percaya dan bawa ke koloni berbalik arah
ketika semua hati sudah ia berikan. Photuris Merah perlahan mundur menahan sendu.
Dan sang Crimson Patch pelan-pelan
mengepakkan kedua sayapnya yang hitam legam cantik berpola orange dan bintik putih membumbung tinggi meninggalkan koloni kunang-kunang.
==================================================================
Kasunanan CityDear Gusti
There is no wingless butterfly in this world
There can hardly be any rose
Without thorns
Untained friendship is rare
But love without trust
Is the greatest lie in this world
From: Kumpulan Syair Teman-Teman Gusti Tineke
@MuseumUllenSentalu,
Yogyakarta
Semarang, 27 September 2014, 4.20 PM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar