9.27.2014

The Crimson Patch : I Won't Go To Bed at Saturday Night.



Kupu-kupu terbang
Meninggi ke arah matahari
Kepak sayap menatang
Cantik menari

@GigleBoxand JonasPhoto
=====================================================================================


Suatu sore di hutan kawasan bukit Semarang, lahirlah seorang ulat dari telur seekor betina cantik yang kini sudah tiada. Di atas dahan daun hijau dia clingukan, tengok kiri dan kanan. Tak ada yang serupa dengannya, nyatanya dia ditinggal sendirian. Di tengah bukit jalan Gombel Semarang yang membelah jalan raya. Si ulat kecil hanya mendengar suara kendaraan yang berlalu lalang, terkadang bel kencang sesekali menyeru. Sore semakin meredupkan warnanya dan gelap hampir menyambut, dan ketakutan mulai menghampirinya.

“lalalalalalala…hmmmmm” dari kejauhan tiba-tiba ia mendengar suara bergumam bernyanyi.
“Siapa disana?” Tanya sang ulat kecil.
“HAH!” Ia tekejut
“Ada yang memanggilku kah?” sang suara menyambut
“IYA! Aku dibawah sini….kamu siapa?” Sahut sang ulat kecil
“EH! Maaf hampir saja tidak terlihat… Hai, sang ulat kecil!
Aku Photuris Merah… kamu baru lahir ya?”
“Sepertinya begitu…. “
“Dan saudara kamu mana?”
“NAH! Itu yang aku heran, selepas lahir aku tak melihat siapapun bahkan saudaraku”
“Mungkin Ibu-ku ketika terbang lupa jika masih ada telur yang tertinggal….
Dan disinilah aku. Kamu seperti Ibu-ku bisa terbang, Kamu Kupu-Kupu ya? ”
“Bukan ulat kecil! Aku Kunang-kunang merah.. memang aku seperti Ibu-mu bisa terbang tetapi sayapku tak indah hanya bersinar,”
“Tetapi mana sinarmu? Aku tak lihat!”
“Tunggulah! Karena sinarku tak memerah jika matahari belum tenggelam”
Matahari semakin meredup dan tiba-tiba tubuh Photuris memancarkan sinar, menerangi si ulat kecil dibawahnya. Sekali lagi Photuris bergumam dan bernyanyi, mengoyangkan tubuhnya, menunjukkan cantik pada sang ulat.
“Kamu sudah lihat kan! Aku memang punya merah! Oh ya, hampir malam… sebaiknya aku pulang!” sadar sang Photuris Merah.
“Jangan!” si ulat kecil mencegahnya
“Kenapa? Aku harus pulang ke koloniku.”
“Temani…saya….” Pinta sang ulat kecil.
“Tak bisa! Pasti Ibu dan Bapak mencariku untuk makan malam”
“Aku sendiri…” si ulat kecil menunduk
Photuris Merah menatapnya lekat dan diam. Lalu, ia sejenak berpikir bagaimana jika si ulat kecil dibawanya ke koloni. Koloni pasti mengerti betapa sepinya sang ulat kecil.
“Kalau kamu mau…kamu bisa ikut aku untuk tinggal di dahan daun dekat kubangan koloniku. Disana kamu bisa cari makan dari daun  yang merambat disekitar kubangan dan sesekali mampir berpesta di kubangan kami”
“Boleh?”
“Ya! Bolehlah!”
Maka, diajaklah sang ulat kecil pindah di dekat koloni Photuris Merah. Butuh cukup waktu lama  membawa sang ulat kecil pindah. Maklum, ulat kecil masih bayi butuh sabar untuk berjalan. Ketika sang ulat kecil sampai ke koloni Photuris Merah ia terkejut kagum. Banyak kelap-kelip cahaya bukan lampu yang terbang kesana kemari. Dia menemukan rumah yang dicari.
“Welcome…Home!” Semua koloni menyambut baik
“Nah! Ulat kecil... sekarang ini rumahmu!”
“Terima Kasih, Photuris Merah!”
Akhirnya si ulat kecil tidak kesepian lagi, dia bisa menghabiskan tawanya bersama koloni Photuris Merah. Tiap malam sang Raja mengundangnya untuk makan malam. Berpesta dan bernyanyi dengan kelap-kelip koloni.
Hari demi hari sang ulat kecil kini sudah menjadi ulat dewasa yang sebentar lagi mencapai fase berpuasa. Ya! Sebentar lagi dia akan membentuk kepompong. Maka, sehari sebelum dia menelungkupkan tubuhnya dan terbalut serabut benang, dia dan para koloni Photuris Merah membuat sebuah pesta farewell kecil.
Di bawah temaran bintang dan sunyinya kawasan bukit Gombel Semarang, dia bercengkrama untuk terakhir kalinya sebelum menelungkupkan sepinya selama seminggu.
“Nah! Ulat dewasa… apa permintaanmu supaya tak kesepian?” Tanya sang Raja
“Raja, kalian tiap malam bernyanyi dan mengedipkan kelap-kelip cahaya saja sudah cukup”
“Dengan begitu aku tak merasa sepi…. Karena dengan mendengar kalian, aku tau kalian ada”
“Baiklah! Jika seperti itu…. Selama seminggu tiap malam kami akan berpesta, menyanyikan lagu dan mengedipkan kelap-kelip cahaya kami sampai kau keluar dari pupa-mu” Perintah Raja
“Dan apa pinta kalian jika nanti aku sudah menjadi kupu-kupu?”
“ Hanya satu ulat kecil, jangan kau lupakan kami dan jangan kau lupakan dirimu seperti apa dahulu sebelum cantik”
Keesokan harinya sang ulat dewasa menelungkup terbalut benang-benang halus, sutra dari kepompongnya. Dan mulai saat itu koloni tiap malam bernyanyi dan benderang di kubangan. Tiap siang Photuris Merah bercerita tentang sisi kota Semarang yang tiap hari makin panas dan berpolusi.
Seminggu telah berlalu, hari yang ditunggu datang. Tak sabar, semua koloni mengitari kepompong. Darr!!! Pelan-pelan kepompong terbuka. Kaki, Kepala dan sayap mulai nampak. Hari barupun datang, Photuris Merah menghampiri perlahan.
“Hai! Sleepy Head! Have a good sleep there?”
“ARGGGGGGGHHHHHH!!!!! Siapa kalian?” Tiba-tiba sang kupu-kupu terkejut
“Kami yang setiap malam bernyanyi…. Kamu tidak mendengar!”
“Tidak! Aku baru lahir! Dan mana mungkin aku punya teman seperti kalian…..”
“Aku seekor  Crimson Patch mana mungkin berteman dengan kalian!
Kalian cuman serangga jadi-jadian, tidak cantik sepertiku, tinggalnya saja di kubangan

Mendengar seperti itu hati Photuris Merah hancur tak percaya. Seakan semua harapannya hilang. Teman yang ia percaya dan bawa ke koloni berbalik arah ketika semua hati sudah ia berikan. Photuris Merah perlahan mundur menahan sendu. Dan sang Crimson Patch pelan-pelan mengepakkan kedua sayapnya yang hitam legam cantik berpola orange dan bintik putih membumbung tinggi meninggalkan koloni kunang-kunang.
==================================================================
Kasunanan City

Dear Gusti
There is no wingless butterfly in this world
There can hardly be any rose
Without thorns
Untained friendship is rare
But love without trust
Is the greatest lie in this world

From: Kumpulan Syair Teman-Teman Gusti Tineke
           @MuseumUllenSentalu, Yogyakarta


Semarang, 27 September 2014, 4.20 PM

OST Deadly Storm Lightning Thunder

By Aditya Sofyan

PS:  Untuk sang koloni

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar