11.01.2014

23




Jalan panjang…
Berhampar  pinus
di sisi kedua jalan
Ada surya  melayang
Diatas hati yang cemas  
bersama berjalan
Menelusur  ke ujung….
          @HutanPinusImogiri, Yogyakarta

=======================================================================

Malam 17 Oktober 1991, bayi merah bermandikan darah lahir dari perut ibu. Sang bayi begitu mungil berkulit kisut bermandikan plaseta  ibu.  Bapaknya tak ragu membopong menggendongnya dan mengadzani sebagai mana layaknya seorang muslim. Sejak itulah sang bayi menelisik dunia berusaha membuka mata untuk melihat dunia.
Peristiwa 23 tahun yang lalu…..
Ya! Sejak itulah dunia SAIA berawal……
SAIA, seorang wanita muda umur 23 tahun.
Wanita umur 23 tahun?
Young…. Midle Adult…. Adult… or to Old?
Entahlah!  SAIA juga tidak mau membahas itu….
Tidak mau membahas…
tapi SAIA banyak pertanyaan yang akhirnya membawa 
SAIA untuk menelisik inti jiwa…. Peristiwa… dan Hati
    1.      SAIA
“We do not heal the past by dwelling there; we heal the past by living fully in the present.”  Marianne Williamson.
Mungkin quote ini dapat menggambarkan bagaimana jiwa SAIA saat ini. Di umur 22 SAIA merasa “I need healing process” Jadilah SAIA mencari apa yang membuat saya at least damai or you can say bahagia as a person inside from the mess up in the past. Mulai dari volunteering sampai travelling. Mencari dan mencari….. tanpa tahu menerima. Tapi ketika berada diumur 23 ini, SAIA mengerti kemudian mencari. Menerima tanpa harus meminta.

        2. Rumah SAIA

SAIA ingat ketika kecil dulu ibu selalu berpesan:
“Kita itu bukan lahir dari ranah orang kaya maka kerja keras dan pengabdian harus tetap tertanam baik”

Karena terbiasa bekerja sedari kuliah, maka yang ada hanya kerja… kerja… dan kerja. Membumbungkan tinggi cita di hati. Menantang kota dari hati desa. Tapi kembali lagi diumur 23 ini, ketika karier mulai menapak sebagai wanita jawa SAIA ingin kembali ke Ibu. Sesekali ketika libur, bukan dugem yang dicari tapi menelpon Ibu-Bapak. Membicarakan hal kecil sampai bagaimana menapaki karier dengan jujur dan iklas. Dan pulang ke rumah merupakan kado terindah.

     3.      Teman SAIA
“Selalu berbuatlah baik pada siapapun termasuk musuhmu” Ngarso Dalem , Sultan HB X

Pertemanan SAIA yang terbangun selama lima tahun  begitu sangatlah indah. Ketika itu masih polos, baru saja lepas dari seramgam abu-abu. Menantang kota sebagai anak rantau. Pertemuan yang indah sampai pada titik  23 ini kami dihadapkan pada satu masalah yang membuat SAIA sangat marah dan geram. Sikap saling tidak percaya, sungkan, sedih kemudian mengabur di umur 23. Salah satu alasan SAIA membeci angka ini. Tapi, tidaklah! Karena kembali lagi pada hati dan kasih yang begitu besar. Tuhan mendewasakan SAIA!


     4.      Pasangan Jiwa SAIA

Kisah cinta: Gusti Nurul sang Princess Mangkunegaran: 

http://seethatseethis.wordpress.com/2010/05/31/gusti-nurul-living-legend-of-indonesian-woman-emancipation-movement-2/
Bayangan wanita muda umur 22 tentang sang pangeran naik kuda putih dan berparas tampan kini sudah mulai pudar. Dari kisah Gusti Nurul, SAIA dibukakan akan pasangan jiwa. Mungkin sekarang SAIA belum bertemu saja dengan IA, tapi berani jujur, mengabdi, setia dengan pilihan dan berjuang untuk yang terbaik dalam hidup itulah yang SAIA janjikan nanti untuk siapapun pasangan SAIA.

Menapaki hari menjadi dewasa, kini semakin SAIA terbiasa. Mencinta hidup yang diberi Tuhan  untuk menata hati.  Hati yang bagaimana? Manusialah yang menentukan.
Dan SAIA
Yang tentukan
Hidup SAIA………

=========================================================================
Di sana …..
Di tempat tertinggi
Hamparan jiwa
Terletak  mendekat
Dengan sang  dewa
Itulah sang Ujung
@PasareanImogiri, Yogyakarta

Semarang, 2 November 2014
Ost. Memoar –Patigenie-

PS: Thank’s for all gift for  my 23th birtday












Tidak ada komentar:

Posting Komentar