Berhampar pinus
di sisi kedua
jalan
Ada
surya melayang
Diatas hati
yang cemas
bersama
berjalan
Menelusur ke ujung….
@HutanPinusImogiri,
Yogyakarta
=======================================================================
Malam
17 Oktober 1991, bayi merah bermandikan darah lahir dari perut ibu. Sang bayi begitu
mungil berkulit kisut bermandikan plaseta
ibu. Bapaknya tak ragu membopong
menggendongnya dan mengadzani sebagai mana layaknya seorang muslim. Sejak itulah
sang bayi menelisik dunia berusaha membuka mata untuk melihat dunia.
Peristiwa
23 tahun yang lalu…..
Ya!
Sejak itulah dunia SAIA berawal……
SAIA,
seorang wanita muda umur 23 tahun.
Wanita
umur 23 tahun?
Young….
Midle Adult…. Adult… or to Old?
Entahlah!
SAIA juga tidak mau membahas itu….
Tidak
mau membahas…
tapi
SAIA banyak pertanyaan yang akhirnya membawa
SAIA
untuk menelisik inti jiwa…. Peristiwa… dan Hati
1. SAIA
“We do not heal the past by dwelling
there; we heal the past by living fully in the present.” Marianne Williamson.
Mungkin quote ini dapat
menggambarkan bagaimana jiwa SAIA saat ini. Di umur 22 SAIA merasa “I need
healing process” Jadilah SAIA mencari apa yang membuat saya at least damai or
you can say bahagia as a person inside from the mess up in the past. Mulai dari
volunteering sampai travelling. Mencari dan mencari….. tanpa tahu menerima. Tapi
ketika berada diumur 23 ini, SAIA mengerti kemudian mencari. Menerima tanpa
harus meminta.
2. Rumah
SAIA
SAIA ingat ketika kecil dulu ibu
selalu berpesan:
“Kita
itu bukan lahir dari ranah orang kaya maka kerja keras dan pengabdian harus
tetap tertanam baik”
Karena terbiasa bekerja sedari
kuliah, maka yang ada hanya kerja… kerja… dan kerja. Membumbungkan tinggi cita
di hati. Menantang kota dari hati desa. Tapi kembali lagi diumur 23 ini, ketika
karier mulai menapak sebagai wanita jawa SAIA ingin kembali ke Ibu. Sesekali
ketika libur, bukan dugem yang dicari tapi menelpon Ibu-Bapak. Membicarakan hal
kecil sampai bagaimana menapaki karier dengan jujur dan iklas. Dan pulang ke
rumah merupakan kado terindah.
3.
Teman
SAIA
“Selalu
berbuatlah baik pada siapapun termasuk musuhmu” Ngarso Dalem , Sultan HB X
Pertemanan SAIA yang terbangun
selama lima tahun begitu sangatlah
indah. Ketika itu masih polos, baru saja lepas dari seramgam abu-abu. Menantang
kota sebagai anak rantau. Pertemuan yang indah sampai pada titik 23 ini kami dihadapkan pada satu masalah yang
membuat SAIA sangat marah dan geram. Sikap saling tidak percaya, sungkan, sedih
kemudian mengabur di umur 23. Salah satu alasan SAIA membeci angka ini. Tapi,
tidaklah! Karena kembali lagi pada hati dan kasih yang begitu besar. Tuhan
mendewasakan SAIA!
4.
Pasangan
Jiwa SAIA
Kisah
cinta: Gusti Nurul sang
Princess Mangkunegaran:
http://seethatseethis.wordpress.com/2010/05/31/gusti-nurul-living-legend-of-indonesian-woman-emancipation-movement-2/
http://seethatseethis.wordpress.com/2010/05/31/gusti-nurul-living-legend-of-indonesian-woman-emancipation-movement-2/
Bayangan wanita muda umur 22 tentang
sang pangeran naik kuda putih dan berparas tampan kini sudah mulai pudar. Dari
kisah Gusti Nurul, SAIA dibukakan akan pasangan jiwa. Mungkin sekarang SAIA
belum bertemu saja dengan IA, tapi berani jujur, mengabdi, setia dengan pilihan
dan berjuang
untuk yang terbaik dalam hidup itulah yang SAIA janjikan nanti untuk siapapun
pasangan SAIA.
Menapaki
hari menjadi dewasa, kini semakin SAIA terbiasa. Mencinta hidup yang diberi
Tuhan untuk menata hati. Hati yang bagaimana? Manusialah yang
menentukan.
Dan
SAIA
Yang
tentukan
Hidup SAIA………
=========================================================================
Di sana
…..
Di tempat
tertinggi
Hamparan
jiwa
Terletak
mendekat
Dengan sang
dewa
Itulah
sang Ujung
@PasareanImogiri,
Yogyakarta
Semarang, 2 November 2014
Ost. Memoar –Patigenie-
PS: Thank’s for all gift for my 23th birtday
Tidak ada komentar:
Posting Komentar