Menapaki
tanah
selepas
hujan
bertelanjang kaki
berjalan tak tentu arah
dibulan ……
Desember.
@SelokanBelakangRumah
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
‘Apa yang pasti di Dunia ini?’
![]() |
| Rain in Amsterdam |
Pertanyaaan itulah yang
sekarang dan sampai saat ini masih dalam satu ingatan. Mungkin orang akan cepat
akan menjawab dengan Matematika, Sains, atau Ilmu Pasti lainnya. Bagaimana
dengan 4 x 6 atau 6 x 4? Berapa planet di antariksa? 9 atau 12 ? Masih bisa
berasumsi Pasti?
Pertanyaan itulah yang
akhirnya selalu mengganggu saya. Bahkan ketika tidurpun saya terkadang
memikirkannya. Menjadikan banyak asumsi yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Menjadi timbul berujung pertanyaan
Bagaimana? Lalu? Mengapa? dan perasaan curiga, cemas, dan resah. Pertanyaan dan
perasaan yang membuat saya buruk secara mental.
Penampilan saya yang
buruk akhirnya dipergoki oleh teman-teman. Luca menghampiri saya dengan bahasa
italic dia menganjurkan “Bel far niente
means the beauty of doing nothing.” Ya! Tidak melakukan apa-apa. Bagaimana
bisa? Apa untungnya? Luca memarahi saya berhenti untuk bertanya dan
menyarankan coba saja!
Sehari setelah itu,
subuh saya sudah bangun menyiapkan makan pagi. Pelan-pelan saya menaruh memo di
depan kamar tidur meninggalkan pesan untuk teman-teman satu flat saya supaya
tidak mengetuk bahkan berteriak memanggil nama saya. Kutambahkan persediaan
makan cukup sampai besok. Jadi, saya tidak akan turun untuk makan. Saya akhirnya
menutup rapat dan mengunci kamar tidur saya seharian.
Lalu apa yang saya
lakukan di dalam? Menangis? Karoke? Membaca? Menikmati music? Tidak. Seperti
saran Luca, saya hanya tidak melakukan apapun. Menimbun lemak madsud anda?
Hmmm…Tidak juga. Saya hanya duduk di Balkon menikmati seduhan kopi yang tetap
kujaga hangatnya. Sembari melihat sekeliling dan tidak berpikir apapun.
Saya menikmati
kebahagiaan. Memeluk diri saya dengan hati saya. Menciptakan kasih dan sayang
untuk diri sendiri. Menyelamatkan hati saya dan mencintainya apa adanya.
Mungkin bagi kalian nampak begitu Bodoh! tapi coba kalian pikir ‘Kapan terakhir
kali berbicara dengan Jiwa yang didalam?’ Saya percaya hanya 1% sehari
selebihnya Tuhan, orang terdekat, rekan kerja,
dan orang tua.
Perlahan pagi berganti
siang, nampak dibawah balkon saya dapat mendengar riuhnya suasana jalanan
Venice. Mama yang berdebat dengan tukang sayur dengan getolnya. Tanpa terasa
udara menjadi dingin menciptakan warna abu diantara tembok-tembok bangunan tua
Venice. Seiring titik-titik hujan jatuh membasahi jalanan dan pipi saya basah.
Entah perasaan apa yang
sedang mengalir. Saya tidak memikirkan apapun namun air mata jatuh perlahan
seakan ingin menghapus derita. Ya! Air mata itulah yang saya namakan Keikhlasan.
Disaat itulah titik nol jiwa, seperti grafik matematika antara garis Horizontal
dan Vertikal. Pertemuan antara sumbu X dan Y dalam sistem koordinat dua dimensi. Bercermin antara badan dan jiwa. Dan itu (0,0).
Hujan mereda ketika
kusadari air panas saya telah habis dan gondola-gondola menepi di sepanjang
aliran sungai buatan Venice. Saya merasa energy saya kembali, bersemangat
memandang positif. Tersenyum dengan tidak menghakimi. Memaafkan dengan tidak
mempersalahkan. Dan merelakan dengan sebuah keikhlasan.
Maka ketika kamu
berfikir……
‘Apa
yang pasti di Dunia ini?’
“Ketidakpastian.”
“Karena yang bisa menyelamatkanmu adalah
dirimu sendiri….”
Akhirnya, saya
Berbicara pada diri
saya,
Untuk tetap belajar
melepas….
Dengan berusaha positif
serta semangat dan niat juga tekad yang baik… tanpa berasumsi
Semua itu membawa saya
pada satu simpulan
“SONO
GRATA…. Saya Bersyukur.”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mungkin….
Diluar hujan
Dingin, petir, dan deras
Percayalah….
Itu hanya kemungkinan
yang diikuti
Reda, terang, dan Pelangi
Maka bernyanyilah
Que sera.. sera…
Whatever will be will be
@KamarPribadi
Semarang. 29 December 2014. 05.30
PM
OST. Desember –Efek Rumah Kaca-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar