Menjamu senja
Diakhir Februari
Katanya sih!
Bulan cinta
Dan benar saja
Banyak cinta
Di bulan Februari
@PeacockCaffe
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"What about your past?”
![]() |
| 5.30 PM: 28 Februari 2014 Sleman, Yogyakarta |
Pertanyaan itu
tiba-tiba muncul dari seorang pria yang kini duduk tepat di hadapan saya.
Sandu. Pria seumuran saya yang sangat berani sekali menguliti saya ketika lagi
enak-enaknya ritual ngopi sore. Pria yang secara harafiahnya belum begitu saya
kenal. Pria yang menawari saya candu ketika saya gemetar di lantai tempat
tidur.
“Why are you fucking care of my past?”
tanya saya berbelit.
“Honestly, I’m just pity of you. You welcome to the
children heart, but every morning you need almost one hour to get meditation
and in sunset, you enjoy being lonely also drinking same coffee. Then, once in
week you go to library to take another pain release
book. You went dance, but you cried. You mingled,
but you could be out of space in second.”
Terangnya panjang lebar.
“am I?”
Mata saya mulai
berlarian tidak fokus menatap sana sini. Saya mulai risih atau saya mulai tak
suka? Entahlah! Itu menjadi kabur. Menjadikan semua ingatan beradu dalam
fikiran. Menjadi jerembu dalam kenangan. Sulit rasanya saya
terbuka. Saya tidak biasa ditanya seperti ini. Saya terbiasa menanggapi
pertanyaan yang lebih gampang. Contohnya, kopi apa yang saya sukai, atau sudah
kemana saja kamu berpergian tahun ini. Namun, pertanyaan itulah yang membuat
saya mandek. Ya! Berhenti. Seakan mau tapi mau bicara apa, mulai dari mana?
“Do I really
need to tell you?”
jawab
saya sedikit canggung.
“Yes, Please! Come
on! Before I back home....”
matanya berbicara
seraya menggoyangkan tangan saya
“Before I tell about my past, I
remember when we first met...”
Sebelumnya, saya
mengawang bagaimana kami dipertemukan. Senja bulan Desember, saya turun dari kereta
sepulang travelling. Pulang, saya berjalan menuju pintu keluar peron kereta
api. Disanalah, ia melangkah. Di depan saya berdiri pria jangkung berambut
pirang membawa ransel yang sama. Di sisi kiri tangannya nampak membawa peta Indonesia. Hal yang paling lucu
ketika dihadapkan pada zaman sekarang yang serba Smartphone. Seseorang yang khas sekali dijuluki explorer.
“OH Ja! You instantly said Welcome home, Monsieur!
Hahahaha.... even I’m not French!”
Dia tertawa mengingatnya.
Seyumnya yang khas,
rambutnya yang pirang, matanya yang coklat tertimbun kacamata, dan alisnya yang
tebal. Melihatnya tertawa seperti ini dengan langit sore serta angin senja
membuat dunia saya terhenti. Semua menciptakan kombinasi yang tepat. Dan biarkan
saya menikmati moment ini dulu.
“Yes, you are! The man with the map on his hand. You
are not really cool but clueless! Hahahaha....”
Saya menimbunya.
“But... You know... The more clueless was the first
our met. You with messy hair and got sun burning also smelled like fish....”
“I was back from the beach.... so it’s oke. Then
you? Messy hair... big carrier... map...and don’t know what to do.... It was
suck!”
“I can’t believe it! We become a travel
partner, dude!
“Yeah, dude! And tomorrow we will separate….....”
Saya ceberut menundukan kepala
“Hei! It is ok if we are not in same horizon again. Remember
dude, we had a good travel, laugh over, and love over. So, don’t worries...we
still have topic to discuss it. That’s why I want to know you closer by telling your past”
Dia merengkuh tangan saya, mengatakan
tidak apa-apa dan percayalah.
“I need a time. Sure, I’ll tell you soon. Now, I
just want to share my past when we traveled and laughing together as friend. So,
thank you had been seen me closer than I see myself.”
Saya
meregangkan tangan saya menggesernya mundur, dan menyimpannya dalam bawah meja.
Lonceng kereta mulai menyeruak pertanda kereta akan berangkat. Dan disana pula,
di batas peron saya melepasnya. Melepas sang punggung pembawa carrier pulang.
Saya tahu, dia ingin sekali membaca saya, lebih sekedar dari
pertnyaan-pertanyaan yang ada difikirannya. Tetapi terkadang membaca tidak
dimulai dari sebuah cerita, melainkan sang waktu dengan kesiapannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Memutar senja....
Dalam lingkaran waktu....
Memilih cinta....
Dalam pusaran candu....
@Kamarkost52
Semarang, 28 February 2015,
00.00 PM
Inspired: One Fine day –Gardika Gigih
Pradipta-
PS: Thanks untuk cintanya di Bulan Februari ini
Keluarga-Teman-Masyarakat-
Untuk Teman yang pulang ke Rumah:
German-Belanda-Jepang dan dimanpun kau pulang
perjalanan memang butuh waktu
sementara itu nikmatilah kenangan-kenangan
yang membawamu ingin pulang.
So, Where is the home?
where get your heart on
German-Belanda-Jepang dan dimanpun kau pulang
perjalanan memang butuh waktu
sementara itu nikmatilah kenangan-kenangan
yang membawamu ingin pulang.
So, Where is the home?
where get your heart on

Tidak ada komentar:
Posting Komentar