2.28.2015

ONE FINE DAY




Menjamu senja
Diakhir Februari
Katanya sih!
Bulan cinta
Dan benar saja
Banyak cinta
Di bulan Februari
       @PeacockCaffe
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"What about your past?”

5.30 PM: 28 Februari 2014 Sleman, Yogyakarta


Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari seorang pria yang kini duduk tepat di hadapan saya. Sandu. Pria seumuran saya yang sangat berani sekali menguliti saya ketika lagi enak-enaknya ritual ngopi sore. Pria yang secara harafiahnya belum begitu saya kenal. Pria yang menawari saya candu ketika saya gemetar di lantai tempat tidur.
“Why are you fucking care of my past?”
tanya saya berbelit.
“Honestly, I’m just pity of you. You welcome to the children heart, but every morning you need almost one hour to get meditation and in sunset, you enjoy being lonely also drinking same coffee. Then, once in week you go to library to take another pain release book. You went dance, but you cried. You mingled, but you could be out of space in second.
Terangnya panjang lebar.
“am I?”
Mata saya mulai berlarian tidak fokus menatap sana sini. Saya mulai risih atau saya mulai tak suka? Entahlah! Itu menjadi kabur. Menjadikan semua ingatan beradu dalam fikiran. Menjadi jerembu dalam kenangan. Sulit rasanya saya terbuka. Saya tidak biasa ditanya seperti ini. Saya terbiasa menanggapi pertanyaan yang lebih gampang. Contohnya, kopi apa yang saya sukai, atau sudah kemana saja kamu berpergian tahun ini. Namun, pertanyaan itulah yang membuat saya mandek. Ya! Berhenti. Seakan mau tapi mau bicara apa, mulai dari mana?
“Do I really need to tell you?”
jawab saya sedikit canggung.
“Yes, Please! Come on! Before I back home....”
matanya berbicara seraya menggoyangkan tangan saya
Before I tell about my past, I remember when we first met...
Sebelumnya, saya mengawang bagaimana kami dipertemukan. Senja bulan Desember, saya turun dari kereta sepulang travelling. Pulang, saya berjalan menuju pintu keluar peron kereta api. Disanalah, ia melangkah. Di depan saya berdiri pria jangkung berambut pirang membawa ransel yang sama. Di sisi kiri tangannya nampak membawa peta Indonesia. Hal yang paling lucu ketika dihadapkan pada zaman sekarang yang serba Smartphone. Seseorang yang khas sekali dijuluki explorer.
“OH Ja! You instantly said Welcome home, Monsieur! Hahahaha.... even I’m not French!”
Dia tertawa mengingatnya.
Seyumnya yang khas, rambutnya yang pirang, matanya yang coklat tertimbun kacamata, dan alisnya yang tebal. Melihatnya tertawa seperti ini dengan langit sore serta angin senja membuat dunia saya terhenti. Semua menciptakan kombinasi yang tepat. Dan biarkan saya menikmati moment ini dulu.
“Yes, you are! The man with the map on his hand. You are not really cool but clueless! Hahahaha....”
Saya menimbunya.
“But... You know... The more clueless was the first our met. You with messy hair and got sun burning also smelled like fish....”
“I was back from the beach.... so it’s oke. Then you? Messy hair... big carrier... map...and don’t know what to do.... It was suck!”
“I can’t believe it! We become a travel partner, dude!
“Yeah, dude! And tomorrow we will separate….....”
Saya ceberut menundukan kepala
“Hei! It is ok if we are not in same horizon again. Remember dude, we had a good travel, laugh over, and love over. So, don’t worries...we still have topic to discuss it. That’s why I want to know you closer by telling your past”
Dia merengkuh tangan saya, mengatakan tidak apa-apa dan percayalah.
“I need a time. Sure, I’ll tell you soon. Now, I just want to share my past when we traveled and laughing together as friend. So, thank you had been seen me closer than I see myself.”  
Saya meregangkan tangan saya menggesernya mundur, dan menyimpannya dalam bawah meja. Lonceng kereta mulai menyeruak pertanda kereta akan berangkat. Dan disana pula, di batas peron saya melepasnya. Melepas sang punggung pembawa carrier pulang. Saya tahu, dia ingin sekali membaca saya, lebih sekedar dari pertnyaan-pertanyaan yang ada difikirannya. Tetapi terkadang membaca tidak dimulai dari sebuah cerita, melainkan sang waktu dengan kesiapannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Memutar senja....
Dalam lingkaran waktu....
Memilih cinta....
Dalam pusaran candu....
       @Kamarkost52
Semarang, 28 February 2015, 00.00 PM
Inspired: One Fine day –Gardika Gigih Pradipta-
PS: Thanks untuk  cintanya di Bulan Februari ini
Keluarga-Teman-Masyarakat-
Untuk Teman yang pulang ke Rumah:
German-Belanda-Jepang dan dimanpun kau pulang
perjalanan memang butuh waktu
sementara itu nikmatilah kenangan-kenangan
yang membawamu ingin pulang.
So, Where is the home?
where get your heart on







Tidak ada komentar:

Posting Komentar