5.29.2015

Dua Cangkir Teh: Kue Lapis dan Empat Batang Rokok



Fajar……
Sepi dan sunyi
menyecap dingin
dalam  hangatnya kamar…..
@kamarpribadi
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Pagi. Senggang. Masih menekuri langit abu luar jendela. Hari ini sang fajar membangunkan saya. Dengan dingin pelan-pelan saya disapanya dengan hangat. Membangunkan saya setelah tadi malam….. Ah! Entahlah! Saya juga kurang ngerti berapa shot yang ditenggak. Berapapun itu…..saya tak pernah merasa sepusing ini.
Brepppppp……Brepppp…Breppp…..

Dengan sigap saya mencari suara Breppp itu….. Saya merengkuh handphone….dan mencermatinya dengan pasti….IBU? Sepersekian detik saya tertegun, kenapa telpon sepagi ini?Sebelum saya angkat….. betulkan suara dulu sebelum Ibu tahu kejadian tadi malam.
“Pagi, Mom!” Begitu sapa saya, panggilan akrab yang ibu mau.
“Eh! Kenapa suaranya serak gitu…. Kemarin party sampai jam berapa?”
Damn! Suara parau ini ternyata tidak bisa ditutupi
“Nggak. Cuman mingle sama teman-teman biasa saja….nggak lebih kok!
“Alasan! Kalau Mom sih sudah tahu ya….. tapi Pakde-mu kan belum!”
“Memang ada apa Mom?”
“Itu loh! Saudaramu kan mau melamar…..”
“ Nah! Pakde-mu rencananya mau ke rumah calon menantunya.
“Pakde, biar ke tempatmu Ya! Nanti sekalian anter! Kan kamu tahu rumahnya to?”
“Loh! Mom…..!!!!!”
“Loh! Apa? Mingle sama teman-teman saja bisa berjam-jam kok…..”
“Pokoknya dianter! Oh ya! itu kaleng beer… bawah ranjang dibuangin semua!”
Kleck. Tut….Tut….Tut…..
Shit! Bener-bener ya….. nie ibu tahu segalanya.
Melamar? Berarti erat hubungnnya dengan pernikahan, menikah, umur, dan rumah tangga. Wait! How old am I? 23 years old. Is it still young for marriage? Hmmmmm….. Let see what happen. Saya hidup di dua pemikiran berbeda. Which is, let see on my facebook timelines. Jadi ada dua jenis teman dalam facebook saya yang berumur 23 tahun, all genre. Pertama,  teman  yang masih single sedang menikmati pekerjaannya dan pergi ke tempat-tempat indah penjuru dunia. Kedua, teman yang tiap hari selalu update masalah dapur rumah tangganya. Dua-duanya punya hidup yang sama-sama bahagia.
Lalu kita pisahkan mereka ketika sendiri, What happen with them?
Teman saya yang single  setiap hari menyibukan hari-harinya dengan kerja, mingle, dan travelling memutuskan untuk cuti dari kerjanya satu hari saja, dan melakukan solo travel. Benar-benar solo, tidak bertemu atau menyapa teman se-homstay atau sekedar basa-basi dengan orng sekitar.
Effect-nya?  Begitu posting foto….hanya tempat-tempat suram yang berhasil dicapture
Teman yang setiap hari laporan kegiatan anaknya yang baru bisa bilang ‘ma..’ kemudian berdandan cantik ber-dress putih dengan sepatu high heals hitam melenggang ke sebuah café menghadiri acara reuni sma.
Effect-nya? Ia cemas…. Tangannya tak berhenti memencet screen handphone. Melihat paras lucu sang anak yang ditinggal karena tak bisa ikut, berharap acara reuni SMA selesai sesegera mungkin.
Kedua cerita itu bukan tentang pilih memilih, tapi rasa. Ya! Rasa didalam hati.
Dan rasa itu adalah ‘Bahagia’
Begitu juga Pernikahan. Seharusnya, disambut oleh bahagia. Disambut seperti pertemuan pertama. Disambut sebagai hangat pagi. Disambut sebagai dua cangkir poselin berisi teh hangat yang dihidangkan bersama kue lapis serta empat lima batang rokok.

JADI APA PENDAPATMU TENTANG PERNIKAHAN?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Matahari meninggi
hangat …….
Memeluk jiwa dan batin
Memberi warna
Kuning ……
Sang bunga krisan
                        @kamarpribadi
Semarang, 29 Mei 2015
OST. Journey (Dolphin Bay)
P.S: Cause it’s along long journey….
Tidak apa-apa jika jalannya masih panjang  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar