Menanti hujan
di tengah kemarau
menata keteguhan
di saat galau…..
@Kopideko
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tick Tock…..
Tick Tock…..
Tick Tock…..
Kressssssss….!!!!!
| Photography ig: @octa_tali_sepatu |
Suara jam
dinding dan rintik hujan membangunkanku dari tidur. Hujan. Rasanya sudah lama
sekali aku tak mendengar suara rintikmu. Di tengah kemarau yang tak
berkesudahan ini kau bagai pelebur bagi sang hati. Kau mederaku seperti lelehan
lilin jatuh perlahan di punggung tangan. Kau pemecah juga pemberi rasa.
Kutengok jam di
dinding, tepat pukul duabelas malam. Aku terjaga menekuri sekeliling sambil
sesekali memejamkan mata mendengar suara rintikmu yang jatuh perlahan mungkin di
atas genteng, mungkin dibahu jalan, atau mungkin di dahan pohon.
Kurasakan pelan
dn pelan menuju sang hati. Tanpa disadari kurasakan satu perasaan yang
menyanyat membilu seperti terhunus suntikan tetanus. Begitu tepat didasar hati,
membuat dada semakin sesak dang bingung harus bagaimana lagi
mengekspresikannya.
Entah darimana
perasaan itu, kemudian berubah menjadi bulir-bulir yang turun dari mata. Kepekaan
itu mulai mendera membasahi pipi dan bantal. Inilah ketidak sanggupanku dari
semua yang mendera. Menenggelamkan diri dengan tidak berdaya. Mengerti bahwa
tidak selamanya aku bisa melawan arus. Aku terpuruk.
Tangisanku
ternyata dipergoki oleh bapak. Tak mampu lagi aku pandang rona wajahnya. Entah
marah atau sedih aku tak tahu. Diri ini sudah terlalu kacau memperhatikan
sekitar yang sanggup kusadari hanya kantung mata rasanya bertambah tebal.
Bapak perlahan
menghampiriku, menatap kosong ke depan sambil merancau –entah seakan akupun tak
peduli. Aku memalingkan badanku membelakanginya. Perlahan tangannya yang legam
dan berkeriput menepuk punggungku.
Makin bertambah
lagi isak tangisku. Dan bapak menyungkurkan diri di sampingku, sambil memeluk
bantal aku mendengarnya terisak-isak menangis yang amat pedih. Seketika aku
kaget dibuatnya. Ini kali ketiga aku melihatnya menangis dan terisak.
Pertama, ketika
bapak mendapat surat cerai dari ibu. Aku yang disamping ibu hanya berpura-pura
tidur tidak tahu. Sementara Bapak menangis karena kerasnya hati ibu. Dan pada
saat itu aku mulai belajar bagaimana menyembunyikan tangis dan luka.
Menyimpannya sendiri sampai entah hilang atau hanya tersimpan disudut hati
saja.
Kedua, aku
melihat Bapak menangis karena daya usahaku berbuah hasil. Saat itu aku baru
saja pulang dari tanah rantau. Kugengam sepucuk surat untuk Bapak. Melihatnya
membaca dengan kacamata sepuluhribuan mencermati setiap detil isi surat perlahan.
Bulir air matanya menetes bahagia. Pada saat itu aku melihat cinta.
Dan malam ini,
aku melihat yang ketiga kalinya. Kali ini aku melihat rasa yang sebelumnya
tidak pernah aku lihat. Di matanya seperti ada yang mengganjal. Seperti,
menyimpan segan pada sesuatu. Seperti, ada rasa kecewa bercampur kepasrahan. Seperti
ada sembilu yang sangat dan sangat ditahan.
Mungkin itu
hanya dugaanku saja…..
Mungkin itu
hanya perasaanku saja
Yang salah…..
Yang keliru…..
Yang terlalu kompleks…..
Kusingkirkan
semua keras hatiku, kucoba menghapus semua perasaan yang kupunya. Tapi. Tidak
bisa. Kami berdua saling berpeluk…menangis…terisak…dan saling menguatkan satu
dan lainnya. Seperti hujan malam ini, kami meleburkan diri.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hujan
turun
saat kemarau
saling berperang
kacau…..
Tiada yang menang
Kecuali ketenangan
@KopiDeko
Semarang, 22 October
2015, 0.30 am
OST.Yang Tetap Dan
Berganti (Waktu)
-Gardika GP-
PS: Bapak, don’t worry!
I won’t give up
Tidak ada komentar:
Posting Komentar