10.22.2015

Menghujam Hujan

Menanti hujan
di tengah kemarau
menata keteguhan
di saat galau…..
          @Kopideko
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tick Tock…..
Tick Tock…..
Tick Tock…..
Kressssssss….!!!!!
Photography ig: @octa_tali_sepatu


Suara jam dinding dan rintik hujan membangunkanku dari tidur. Hujan. Rasanya sudah lama sekali aku tak mendengar suara rintikmu. Di tengah kemarau yang tak berkesudahan ini kau bagai pelebur bagi sang hati. Kau mederaku seperti lelehan lilin jatuh perlahan di punggung tangan. Kau pemecah juga pemberi rasa.
Kutengok jam di dinding, tepat pukul duabelas malam. Aku terjaga menekuri sekeliling sambil sesekali memejamkan mata mendengar suara rintikmu yang jatuh perlahan mungkin di atas genteng, mungkin dibahu jalan, atau mungkin di dahan pohon.
Kurasakan pelan dn pelan menuju sang hati. Tanpa disadari kurasakan satu perasaan yang menyanyat membilu seperti terhunus suntikan tetanus. Begitu tepat didasar hati, membuat dada semakin sesak dang bingung harus bagaimana lagi mengekspresikannya.
Entah darimana perasaan itu, kemudian berubah menjadi bulir-bulir yang turun dari mata. Kepekaan itu mulai mendera membasahi pipi dan bantal. Inilah ketidak sanggupanku dari semua yang mendera. Menenggelamkan diri dengan tidak berdaya. Mengerti bahwa tidak selamanya aku bisa melawan arus. Aku terpuruk.
Tangisanku ternyata dipergoki oleh bapak. Tak mampu lagi aku pandang rona wajahnya. Entah marah atau sedih aku tak tahu. Diri ini sudah terlalu kacau memperhatikan sekitar yang sanggup kusadari hanya kantung mata rasanya bertambah tebal.
Bapak perlahan menghampiriku, menatap kosong ke depan sambil merancau –entah seakan akupun tak peduli. Aku memalingkan badanku membelakanginya. Perlahan tangannya yang legam dan berkeriput menepuk punggungku.
Makin bertambah lagi isak tangisku. Dan bapak menyungkurkan diri di sampingku, sambil memeluk bantal aku mendengarnya terisak-isak menangis yang amat pedih. Seketika aku kaget dibuatnya. Ini kali ketiga aku melihatnya menangis dan terisak.
Pertama, ketika bapak mendapat surat cerai dari ibu. Aku yang disamping ibu hanya berpura-pura tidur tidak tahu. Sementara Bapak menangis karena kerasnya hati ibu. Dan pada saat itu aku mulai belajar bagaimana menyembunyikan tangis dan luka. Menyimpannya sendiri sampai entah hilang atau hanya tersimpan disudut hati saja.
Kedua, aku melihat Bapak menangis karena daya usahaku berbuah hasil. Saat itu aku baru saja pulang dari tanah rantau. Kugengam sepucuk surat untuk Bapak. Melihatnya membaca dengan kacamata sepuluhribuan mencermati setiap detil isi surat perlahan. Bulir air matanya menetes bahagia. Pada saat itu aku melihat cinta.
Dan malam ini, aku melihat yang ketiga kalinya. Kali ini aku melihat rasa yang sebelumnya tidak pernah aku lihat. Di matanya seperti ada yang mengganjal. Seperti, menyimpan segan pada sesuatu. Seperti, ada rasa kecewa bercampur kepasrahan. Seperti ada sembilu yang sangat dan sangat ditahan.
Mungkin itu hanya dugaanku saja…..
Mungkin itu hanya perasaanku saja
Yang salah…..
Yang keliru…..
Yang terlalu kompleks…..
Kusingkirkan semua keras hatiku, kucoba menghapus semua perasaan yang kupunya. Tapi. Tidak bisa. Kami berdua saling berpeluk…menangis…terisak…dan saling menguatkan satu dan lainnya. Seperti hujan malam ini, kami meleburkan diri.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hujan  turun
saat kemarau
saling berperang
kacau…..
Tiada yang menang
Kecuali ketenangan
          @KopiDeko
Semarang, 22 October 2015, 0.30 am
OST.Yang Tetap Dan Berganti (Waktu)
-Gardika GP-
PS: Bapak, don’t worry! I won’t give up



Tidak ada komentar:

Posting Komentar